BLOK A – Pelajar yang mewakili Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Batu sukses berprestasi ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasioanl (FLS2N) Jawa timur beberapa waktu yang lalu. Sementara itu, sejumlah petani apel di Kota Batu mengalami banyak kendala sehingga beralih menanam komoditi lain, seperti jeruk.
1. Tak terhalang pandemi, pelajar SLBN Batu borong prestasi di ajang FLS2N
Di tengah pandemi Covid-19 nyatanya tidak mengurangi semangat pelajar dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Batu untuk meraih prestasi. Setidaknya ada tiga prestasi yang diborong pelajar SLBN Kota Batu dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Jawa timur beberapa waktu yang lalu.
Meskipun ditengah pandemi, baik pelatih maupun pelajar sendiri sangat gigih untuk meraih prestasi. Terbukti dalam waktu singkat berlatih, para pelajar ini bisa meraih prestasi bahkan mengangkat nama Kota Batu ditingkat Provinsi. Para wali murid juga memberi dukungan penuh karena peran wali murid juga dinilai penting untuk mengasah bakat mereka.
2. Mengancam resapan air, warga Pesanggrahan laporkan pengelola Wisata Alaska ke polisi
Belasan warga kelurahan Pesanggrahan Kota Batu melaporkan Komunitas Sadar Alas ke Satreskrim Polres Batu, Rabu (2/9). Laporan atas dugaan perusakan hutan lindung yang berada di area konservasi Alas Kasinan (Alaska) yang digunakan sebagai tempat wisata alam di Dusun Serbet, Desa Pesanggrahan. Mereka sebelumnya sudah melaporkan ke Perhutani tapi tak ada tindakan.
Mereka melaporkan aktivitas penebangan pohon dan bambu telah dilakukan sejak satu tahun lalu. Hasil tebangan itu dimanfaatkan untuk material bangunan. Bila diteruskan, dikhawatirkan akan mengurangi debit air. Untuk laporan yang dilalukan warga mengacu dari Pasal 22 tentang Amdal dan Pasal 36 tentang Perizinan UU nomor 32 tahun 2009.
3. Polusi meningkat dan unsur hara berkurang, petani Apel di Kota Batu beralih menanam jeruk
Banyak petani apel yang beralih menanam tanaman lain. Alasannya beragam. Mulai lahan pertanian kian sempit, biaya operasional yang mahal hingga kalah bersaing dengan komoditi buah lainnya seperti jeruk. Ketua Gapoktan Tani Bangkit Desa Pandanrejo, Kota Batu, Winardi mengatakan petani apel banyak menemui permasalahan seperti kesulitan pemasaran, produktivitas pohon menurun, biaya perawatan mahal, dan menurunnya unsur hara.
Ditambah lagi dengan buruknya kualitas lingkungan karena adanya eksalasi pembangunan pariwisata dan peningkatan polusi udara dari gas karbonmonoksida kendaraan bermotor menjadi penyumbang merosotnya pertanian apel.




