KOTA BATU – Pembelajaran tatap muka di Kota Batu hingga kini masih belum bisa dilaksanakan. Sejak awal pandemi covid-19 Kota Batu tidak pernah melakukan uji coba pelaksanaan pembelajaran tatap muka karena tak mau mengambil risiko untuk siswa-siswi.
Wakil wali Kota Batu Punjul Santoso pun meminta kepada masyarakat khususnya wali murid untuk lebih bersabar lagi. Ia tidak ingin wali murid terus memaksa Dinas Pendidikan untuk segera melaksanakan proses pembelajaran tatap muka di sekolah.
Terlebih saat ini Kota Batu sudah tidak berada di zona kuning dan kembali ke zona oranye. Karena itulah ia meminta agar masyarakat tetap bersabar dan tetap menjalan protokol kesehatan agar bisa segera lepas dari masa pandemi Covid-19.
“Kita ini sudah tidak berada di zona kuning lagi, kini berada di zona oranye. Ya harus bersabar. Kita tidak mau anak-anak malah terinfeksi virus ketika sekolah tatap muka dilaksanakan tanpa protokol kesehatan yang ketat,” kata Punjul, Selasa (2/1).
Punjul meyakini keputusan untuk tidak membuka pembelajaran secara tatap muka ini merupakan cara terbaik untuk melindungi anak didik. Terlebih pandemi covid-19 masih terus mengancam sehingga masa depan anak-anak ini perlu juga dijaga.
“Dikhawatirkan mereka terjangkit virus ketika di sekolah. Seumur hidup tidak bisa sembuh sesuai pendapat ahli penyakit dalam, terutama ahli penyakit paru-paru, kena corona, akan seumur hidup,” ujarnya.
Sebagai gantinya Punjul meminta kepada guru dan kepala sekolah agar menjaga komunikasi dengan para murid secara intens. Selain itu, disarankan guru tetap melaksanakan WFH tapi tidak melupakan kondisi sekolah.
“Jangan sampai, tidak pernah beraktifitas di sekolah, tahu-tahu ketika nanti masuk sekolah seperti normal, kondisi sekolah sudah ambruk. Boleh guru WFH tapi sesekali ya cek kondisi sekolahnya seperti apa,” ujarnya.
Hingga saat ini hampir seluruh sekolah di Kota Batu tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Namun ada satu sekolah yang melaksanakan pembelajaran secara luring yakni SD Satu Atap Dusun Brau Gunungsari. Hal ini dilakukan karena didaerah tersebut sulit sinyal internet dan siswa yang belajar dalam satu kelas jumlahnya terbatas. Selain itu siswa yang sekolah disana pun hanya warga dusun tersebut.




