KOTA MALANG – Sebuah rumah yang merupakan cagar budaya biasanya hanya merawat bangunannya saja. Namun, sebuah rumah di Kayutangan Heritage, Kota Malang ini berbeda.
Rumah bernama Rumah Mbah Ndut memiliki seluruh ornamen hingga prabotan di rumah yang berdiri sejak 1923 itu dijaga. Tidak ada yang rusak atau diganti. Mulai dari gelas hingga televisi msih terawat dan bisa digunakan.
Pemilik Rumah Mbah Ndut, Rudi Haris mengatakan memang seluruh barang dari orang tuanya, yakni Mochamad Achijat dan Sadikiyah dijaga baik-baik dengan tidak menjual sekaligus dirawat.
“Saya alasannya cukup simple. Kalau sudah pemberian orang tua itu harus dijaga baik-baik. Tidak usah dijual meskipun menggiurkan,” tutur Rudi.
Rudi pun menjelaskan, saat orang tuanya meninggal dunia, tidak ada perebutan warisan dengan empat saudaranya. Rudi dan suadara-saudaranya sepakat untuk menjaga peninggalan orang tuanya itu.
“Ya semua sepakat. Tidak ada keinginan untuk dijual meskipun butuh kami masih memprioritaskan rumah ini untuk tetap dan dijaga keasliannya,” kata dia.
Bahkan Rudi yang bekerja sebagai karyawan swasta dan mempunyai tiga anak itu juga berjualan toko kelontongan. Tak lain untuk memenuhi kebutuhan perawatan barang antik di rumah tuanya.
“Ya hasilnya untuk merawat kan ini rumah tua butuh perawatan khusus. Seperti tekel ini masih sama dengan awal dibangun. Televisi peninggalan orang tua juga kalau rusak kan butuh servis. Itu kami servis supaya bisa. Semua itu kami lakukan bukan untuk tujuan lain tapi cuma untuk merawat peninggalan orang tua,” paparnya.
Dari pantauan Blok-A sendiri memang tidak ada perubahan banyak di rumah bernama Mbah Ndut itu. Tralis, tekel, hingga perabotan memang bernuansa retro.
Bahkan ada pula sertifikat kepemilikan di setiap perabotan antik di rumah Mbah Ndut, seperti radio yang dibeli tahun 1961.
Tanpa dinyana, keikhlasan Rudi membuahkan hasil yang tak terduga untuk perekonomian keluarganya. Pada tahun 2018 kampungnya didapuk sebagai kampung peninggalan sejarah, atau Kampung Kayutangan Heritage.
Rudi tidak perlu lagi berpikir mengubah rumahnya dengan nuansa heritage. Pasalnya, semua yang ada di rumahnya sudah heritage atau peninggalan dari orang tuanya sejak 1923.
“Dan rumah ini akhirnya dijadikan satu jujukan wisatawan karena ada perabotan antiknya apalagi pas buka saya juga membuka warung kopi. Jadi alhamdulilah bisa lah ramai pengunjung rumah saya ini,” tutup anak ragil dari lima bersaudara itu.




