Kesaksian Aremania Kertosono: Tragedi Kanjuruhan Jadi Pertandingan Terakhir Saya Lihat

Tragedi Kelam Kanjuruhan Foto
Sepatu terbaris rapi di gate 12 stadion Kanjuruhan Selasa (4/10/2022) (blok-A/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-A.com – Kesaksian aremania Kertosono yang selamat saat ratusan korban gugur pada tragedi kelam Kanjuruhan, Rabu (5/10/2022).

Pada pertandingan sengit Arema Fc vs Persibaya, aremania seluruh penjuru daerah berdatangan menyaksikam tim kebanggannya berlaga di Stadion Kanjuruhan.

Berangkat dengan tujuan memberikan support tim kebanggaan yang sedang berlaga dengan rival serta berharap akan mendapatkan skor unggul aremania berbondong bondong memenuhi Stadion Kanjuruhan.

Namun, naas pada pertandingan tersebut aremania dari seluruh penjuru kota, salah satunya Aremania Kertosono malah dihadapkan dengan kejadian keji semasa hidipnya.

Salah satu aremania Ketosono, Krisnaldi Budi Raharjo, menceritakan kejadian pada malam hari itu. Ia mengatakan kejadian malam hari itu meninggalkan trauma yang membekas pada dirinya berserta teman lainnya.

Berangkat berdelapan dengan aremania Kertosono bertempat di gate 4, Krisna menyaksikan pertandingan dengan hasil skor 2-3 yang dimenangkan tim Persibaya ia mengaku kesal, namun amarahnya tak sebanding dengan performa tim andalannya yang sudah mengusahakan sebaik mungkin pada pertandingan malam hari itu.

Krisna pun bergegas untuk kembali pulang setelah peluit di bunyikan, namun keinginannya segera meninggalkan Stadion terhenti lantaran ada salah satu supporter yang turun ke bawah lapangan untuk memberikan support pemain. Tidak lama kemudian, gas air mata tiba tiba di semprotkan ke sisi tribun tempatnya.

“Awal mulannya itu ada supporter yang turun kan, itu memberikan support motivasi dan memeluk pemain, gak anarkis akhirnya muncul gas air mata, otomatis banyak supporter yang turun menyerang balik, “papar Krisna saat dikonfirmasi blok-A.com.

Ia juga mengatakan gas air mata pun ditembakkan ke arah tribun, yang dimana tidak ada kericuhan di tribun.

“Bener bener gas air mata dimana mana, saya yang diam di tribun gak tau apa apa tapi terkena efek gas air mata yang ditembakkan ke tribun,” tambah Krisna.

Ia juga menceritakan, ketika hendak ke pintu keluar namun pintu di tutup. Disitulah kesaksiannya melihat secara langsung supporter berdesak desakan hingga terjepit.

“Pintu akses jalan keluar banyak yang masih tertutup hanya beberapa saja yang sudah dibuka, otomatis banyak orang terjebak di pintu yang tertutup, itu desak desakan ditambah lagi disemprot gas air mata, kayak gitu apa gak matiin orang secara masal ?” tanyanya.

Yang masih menjadi pertanyaannya hingga saat ini, kenapa pintu akses keluar banyak yang ditutup ? Padahal situasi di dalam stadion sedang genting waktu itu. Semua orang berlarian menyelamatkan diri dari gas air mata.

Krisna pun menceritakan bagaimana caranya ia keluar dari Stadion, pada saat itupun ia terpisah dengan teman temannya hingga beberapa kali. Hingga mereka dipertemukan di salah satu warung untuk meminta air untuk pertolongan matanya yang tertembak gas air mata.

“Kita mencar pas kenak gas air mata, aku pasrah kita semua kepisah tapi beruntungnya ketemu pas kita sama sama mencari jalan keluar. Tapi kepisah lagi gara gara kena tembak gas air mata lagi pas keluar stadion yang baru berjarak beberapa meter,” jelasnya.

Saat diluar stadion ia melihat kericuhan yang terjadi, pembakaran mobil polisi dan lainnya hingga pada saatnya dia mencari tempat aman untuk berlindung dan lagi lagi ia terkena efek tembakan gas air mata lagi.

“Kan mencar lagi, aku cari tempat aman karena di luar stadion ternyata ada pembakaran itu, nah disitu di semprot gas air mata lagi, parahnya orang yang tidak di sekitar pembakaran pun di semprot,” kata Krisna.

Aremania Kertosono pun menceritakan banyak mayat bergeletakan di ruko ruko stadion, beberapa diantaranya dalam keadaan sekarat. Namun tidak ada pertolongan pada saat itu.

“Pas diluar saya nemuin supporter bergeletakan di jalanan, tapi kurang tau itu meninggal atau gak,” paparnya.

Minimnya pertolongan dan tenaga medis, ia pun turun langsung untuk membantu korban lainnya yang tergeletak.

“Setelah ketemu temen, saya bisa keluar sampai akhirnya ketemu salah satu aremania kasin yang saat itu tergeletak dipinggir jalan dengan keadaan yang cukup memperihatinkan,” jelasnya.

Sempat ingin mencari ke rumah sakit karena satu temannya belum ketemu, namun ia berusaha mencarinya terlebih dahulu di sekitar Stadion. Alhasil, temannya ditemukan sedang berada di area pembakaran.

“Berangkat berdelapan, tapi yang masih belum ketemu satu, kepikiran bakal mencari ke rumah sakit kan takutnya jadi korban tapi temenku pengen mencari dulu di Stadion Alhamdulillah kita ketemu,” katanya.

Hingga akhirnya kedelapan temannya sudah lengkap, Krisna pun bergegas kembali pulang menuju Ketosono. Ia pun sampai Kertosono dengan selamat namun masih meninggalkan trauma di dirinya dan teman teman lainnya.

“Bener bener trauma, masih kepikiran nasib korban yang gletakan, apa lagi di sosmed kan viral banget jadi tambah kepikiran terus,” pungkasnya.

Sampai disaat ia memposting story di Akun Instagramnya, dalam postingan tersebut tertulis sebagai berikut:

“Foto ini akan jadi foto terakhir ayas menjadi bagian dari aremania, masih ingat pertama kali nribun umur 13 tahun diajak mas. skrng sudah hampir menginjak 20 tahun baru kemarin pengalaman terburuk ayas dan nawak nawak aremania kertosono selama mendukung langsung di stadion. untuk tragedi kemarin akan menjadi kenangan yang paling buruk dan menyedihkan bagi nawak nawak semua yang akan selalu kami ingat.

SALAM SATU JIWA🦁💙
-KANJURUHAN DISASTER 01-10-2022.”

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Redaktur pelaksana sekaligus Jurnalis blok-a.com yang memfokuskan liputan pada isu sosial, politik, dan peristiwa terkini di Malang Raya.