Kemarau Membara, Kebakaran di Kota Malang Melonjak Tajam

Kebakaran yang terjadi di gudang material rokok di kawasan Kedungkandang sebabkan kerugian hingga Rp 1 Miliar (foto: Damkar Kota Malang)
Kebakaran yang terjadi di gudang material rokok di kawasan Kedungkandang sebabkan kerugian hingga Rp 1 Miliar (foto: Damkar Kota Malang)

Kota Malang, blok-a.com – Kasus kebakaran di Kota Malang melonjak tajam dalam tiga bulan terakhir seiring kondisi kemarau kering dan cuaca panas. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang mencatat 85 kejadian kebakaran.

Lonjakan paling signifikan terjadi sejak Juni. Pada bulan tersebut tercatat tujuh kasus kebakaran. Jumlahnya kemudian meningkat menjadi 22 kasus pada Juli dan kembali melonjak hingga 28 kasus pada Agustus.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Malang Pandu Rizki Darmawan mengatakan, kondisi kemarau kering dan panas membuat api lebih cepat merambat, terutama pada objek yang mudah terbakar seperti lahan, semak-semak, dan sampah kering.

“Peningkatan ini dipengaruhi oleh faktor kemarau kering dan panas yang menyebabkan percepatan perambatan api. Khususnya pada objek yang terbakar yakni sampah dan lahan atau semak semak kering,” kata Pandu, Selasa (8/9/2026).

Dari total 85 kejadian, kebakaran lahan menjadi kasus terbanyak dengan 36 kejadian atau 42 persen. Selanjutnya kebakaran rumah tercatat sebanyak 14 kasus atau 16 persen.

Berdasarkan persebaran wilayah, Kecamatan Lowokwaru menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran terbanyak, yakni 23 kasus atau 27 persen. Disusul Kecamatan Blimbing, Sukun, dan Kedungkandang yang masing-masing mencatat 18 kasus atau 21 persen.

Selain itu, terdapat satu kejadian perbantuan di wilayah kerja Damkar Kabupaten Malang.

Sementara di tingkat kelurahan, tiga wilayah tercatat memiliki kejadian kebakaran tertinggi. Kelurahan Bandungrejosari, Lesanpuro, dan Tulusrejo masing-masing mencatat lima kasus kebakaran.

Melihat peningkatan tersebut, Pandu mengimbau masyarakat Kota Malang meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak sembarangan menyalakan api, terutama di lokasi yang banyak terdapat material kering dan mudah terbakar.

“Pastikan saat akan bepergian meninggalkan rumah peralatan kompor dimatikan. Kemudian tidak ada kebocoran regulator atau tabung gas. Pastikan perangkat elektronik yang tidak digunakan bisa dicabut,” ujarnya.

Pandu juga menyoroti kebiasaan membakar sampah tanpa pengawasan. Ia mengungkapkan, api dari aktivitas tersebut dapat dengan mudah merambat ketika kondisi lingkungan kering, bahkan berpotensi menjalar ke lahan maupun bangunan.

“Tidak kalah penting membakar sampah yang tidak diawasi. Ini jadi faktor penyumbang terbesar dalam kasus kasus terjadinya kebakaran. Ini bisa saja merambat ke lahan, tumpukan sampah, bahkan bangunan rumah tinggal,” pungkas Pandu. (yog/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com

Jurnalis yang bertugas di wilayah Malang Raya. Fokus peliputan pada isu sosial, politik, pemerintahan dan peristiwa terkini.