BLOK-A – Apakah Anda termasuk salah satu penggemar serial Game of Thrones? Jika ya, tentu tak asing lagi dengan sosok karakter Varys atau si Spider. Varys dikisahkan lahir dan besar sebagai budak yang kemudian dijual ke seorang penyihir.
Dikisahkan dalam serial tersebut, sang penyihir memberikan ramuan yang membuat Varys tak bisa bergerak dan bicara, namun bisa merasakan. Kemudian penyihir itu mengebiri atau memotong penis dan buah zakar Varys untuk ritual magis. Setelahnya, kedua organ itu dilempar ke perapian.
Pengalaman Varys dalam cerita serial Game of Thrones bisa jadi benar adanya di kehidupan nyata. Sebuah buku berjudul A Brief History of Castration: Second Edition (2006) karya Victor T Cheney memaparkan, kebiri pertama kali dipraktikkan untuk hewan.
Pada era Mesolitikum yang terjadi sekitar 8.000 hingga 9.000 tahun lalu, hewan jantan dikebiri agar tak menimbulkan keributan dalam perkawinan, karena dalam dunia hewan kompetisi antara para jantan selalu menimbulkan keributan.
Sejumlah hewan jantan dalam suatu populasinya dikebiri hingga menyisakan satu atau dua saja untuk membuahi lusinan betina seumur hidupnya. Dengan begitu, pembuahan tidak memerlukan banyak jantan.
Kebiri hewan dilakukan saat jantan baru lahir. Buah zakarnya diikat dengan rambut kuda yang lama-kelamaan akan menghitam dan copot dengan sendirinya dalam waktu tiga minggu. Ada pula cara yang lebih menyakitkan. Buah zakar hewan jantan dihancurkan dengan tangan, batu, atau dipotong menggunakan benda tajam.
Pelayan yang Dipercaya
Kebiri manusia muncul tak lama setelah manusia mulai beternak hewan dan melakukan perbudakan. Contohnya pada Kerajaan Mesir Kuno pada tahun 2.600 sebelum masehi.
Di sana, anak dijual sebagai budak untuk membayar utang dan memperoleh uang. Budak yang dikebiri atau orang kasim disebutkan lebih dapat dipercaya karena tak akan menghamili majikan wanitanya. Harganya di pasaran juga lebih mahal.
Beralih ke negara lain yaitu Persia. Di sana, praktik kebiri sudah hadir pada 3.000 tahun sebelum masehi. Kasim diposisikan sebagai pendeta yang disucikan. Namun banyak pula orang kasim kala itu yang berprofesi sebagai pemusik, penyanyi, penjaga harem, hingga pegawai.
Kemudian pada peradaban Yunani Kuno, Plato yang merupakan tokoh filsuf terkenal menganggap orang kasim adalah orang berbahaya dan kejam. Karena saat itu, orang kasim merupakan tawanan perang yang dikebiri paksa, sehingga mereka memendam amarah.
Raja-raja Persia biasa mengambil penduduk terbaik dari tanah jajahan untuk dikebiri yang kemudian diperintah untuk melayani kerajaan.
Kerajaan Asyur atau Asiria mengirimkan 500 bocah kasim ke Raja Darius I setiap tahun, demikian pula Etiopia yang wajib mengirimkan 100 orang kasim ke Persia setiap tahunnya.
Kemudian seiring Islam berkembang, praktik kebiri tak begitu diakui. Nabi Muhammad sendiri tak memiliki budak yang dikebiri.
Namun, budaha memiliki harem di peradaban Timur Tengah membuat praktik kebiri masih dilakukan. Di sana, orang kasim merupakan pelayan yang dipercaya untuk menjaga harem, tempat yang berisi sejumlah wanita. Kemudian pada tahun 1962, harem baru dilarang.
Sementara itu di China, praktik kebiri dilakukan sejak Dinasti Xia (2205-1776 sebelum masehi). Kebiri mulai dipraktikkan terhadap tawanan perang atau orang dari suku pedalaman. Di sana, orang kasim dipercaya karena tak punya keluarga maupun ambisi membangun dinastinya sendiri. Mereka bertugas melayani kerajaan dan para bangsawan.
Suara Surgawi para Kasim
Paus Leo XIII mengizinkan kebiri untuk kebutuhan gereja pada 1878 silam. Saat itu, sekitar 4.000 anak laki-laki dikebiri sejak dini setiap tahunnya untuk mengembangkan suara mereka.
Pada masa itu, gereja menolak keberadaan perempuan. Suara treble atau soprano dihasilkan oleh laki-laki yang dikebiri. Karena dengan kebiri, hormon yang mengubah suara laki-laki saat puber tak lagi ada. Suara laki-laki akan tetap sama seperti saat kanak-kanak.
“Timbre anak-anak koor gereja jernih dan kencang. Mereka mampu mengeluarkan vokal satu oktaf di atas suara natural perempuan. Mereka brilian, ringan, bercahaya, kencang, dengan range vokal yang luas,” kata penulis Prancis Charles de Brosses seperti dikutip dari The Castrati in Opera (1974).
Suara penyanyi kasim disebut tak bisa tertandingi. Mozart bahkan disebut menciptakan banyak musiknya khusus untuk suara khas para kasim.
Pada abad ke-18, hampir 70 persen penyanyi opera adalah orang kasim. Farinelli, yang saat itu didapuk sebagai penyanyi opera terbaik sepanjang masa, termasuk salah satu penyanyi yang tak punya testis.
Hukum Kebiri
Pada 1778, Presiden ketiga Amerika Serikat, Thomas Jefferson, menerapkan kebiri sebagai hukuman bagi para pemerkosa, pelaku poligami, dan sodomi. Sementara di Eropa, negara pertama yang menerapkan praktik kebiri adalah Denmark pada 1929, kemudian disusul Swedia pada 1944, Finlandia pada 1950, dan Norwegia pada 1977.
Di Jerman, pada 1935 hingga 1945, Nazi menggunakan kebiri untuk menjaga kemurnian ras mereka dari Yahudi, Gypsy, homoseks, orang gila, dan kelompok lain yang dianggap menyimpang.
Kemudian tahun 1944 menandai ujicoba kebiri kimia untuk pertama kalinya. Prosedur ini muncul agar kebiri bisa dilakukan secara lebih manusiawi. Saat itu, diethylstilbestrol digunakan untuk menurunkan hormon testosteron. Selain obat tersebut, ada pula Medroxyprogesterone acetate (MPA) hadir dengan merek dagang Depo-Provera pada 1958, yang digunakan untuk menurunkan libido pria.
Penerapan kebiri sebagai hukuman bagi pemerkosa baru dimulai menjelang abad ke-21. California menjadi negara bagian AS pertama yang menerapkan praktik tersebut bagi para pedofil yang sudah lebih dari sekali melakukan aksinya. Sementara negara lain baru menerapkan praktik kebiri kimiawi bagi pemerkosa setelah tahun 2000.



