KOTA MALANG – Setelah diguyur hujan deras selama beberapa jam, Kamis (25/12) sore, kawasan Kayutangan Heritage direndam banjir. Di sekitar pertigaan PLN, ketinggian air yang merendam jalan hingga sekitar mata kaki.
Guru Besar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB), Mohammad Bisri memperkirakan banjir disebabkan karena sumbatan di saluran drainase. Ia menuturkan bahwa selama ini, seturut pengamatannya, di wilayah tersebut jarang terjadi banjir.
“Disana (Kayutangan) memang jarang banjir. Perkiraan saya karena tersumbat. Problemnya ada di sampah, pasir dan sedimen,” ujar Bisri.
Lebih lanjut, untuk mengatasi hal tersebut, saluran air bisa disemprot untuk mengurai penyumbatan di saluran primer maupun sekunder.
Apalagi, jelasnya, secara teknis sejumlah jalan poros di Kota Malang merupakan desain peninggalan Belanda dengan saluran yang lebar. Salah satu contohnya adalah di kawasan Jalan Ijen yang memiliki saluran besar dan kokoh.
“Kalau tidak salah, di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) ada alatnya. Itu bisa dipakai untuk menyemprot sedimen,” terang mantan rektor UB ini.
Sementara itu di media sosial, sejumlah warganet memberi komentar-komentar terkait persoalan ini. Mereka bahkan ada yang memprediksinya sejak jauh-jauh hari. Sementara yang lain berkelakar bahwa itu merupakan wahana air.




