Kota Malang, blok-a.com – Isu megathrust menjadi salah satu isu yang hangat diperbincangkan oleh masyarakat umum. Hal tersebut karena masyarakat cukup khawatir dengan potensi terjadinya isu megatrust tersebut.
Megathrust istilah untuk menyebut zona subduksi lempeng tektonik yang sangat panjang dan relatif dangkal, di mana lempeng tektonik samudra menekan di bawah lempeng tektonik benua. Gempa megathrust adalah gempa bumi yang terjadi di zona megathrust dan merupakan gempa bumi terkuat di dunia.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Prayitno menyampaikan dampak isu megatrust ini masih belum bisa diprediksi. Akan tetapi, pihaknya sudah menyampaikan sosialisasi terkait dengan kebencanaan. Khususnya daerah yang rawan bencana.
“Kami tetap waspada, tapi isu kebencanaan ini kami sudah melakukan kajian hingga mapping rawan bencana,” ujar Prayitno.
Prayitno menjelaskan, pihaknya sudah melakukan mitigasi dan kontigensi terkait dengan antisipasi kebencanaan tersebut. Untuk mapping bencana sendiri, Prayitno mengaku juga melihat kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.
“Kami belum teruji dengan peristiwa, tapi kesiapan kita sudah bisa dilihat,” ujar Prayitno.
Prayitno menerangkan, pihaknya sudah menyiapkan kebutuhan untuk penanganan bencana yang sudah disebar di lima kecamatan di Kota Malang. Sehingga, ia berharap ketika terjadi peristiwa hal tersebut bisa segera diantisipasi.
“Setiap kecamatan sudah punya tenda darurat, senzo, perahu kecil untuk masuk gang sudah ada. Harapan kami ketika ada peristiwa lebih cepat,” terang Prayitno.
Prayitno menambahkan, pihaknya juga sudah memasang Early Warning System (EWS) yang sudah dilakukan pada 24 titik di Kota Malang. EWS tersebut sudah terpasang pada titik yang rawan bencana, sehingga menurutnya jika terjadi peristiwa akan lebih cepat penanganannya. Dan masyarakat terdampak mengetahui langkah apa yang harus dilakukan jika terjadi peristiwa tersebut.
“Semula sirine EWS bisa didengar lokal area. Kemudian sirine kami tambahkan aplikasi pesan singkat untuk seluruh rumah yang diprediksi menjadi korban. Mulai dari warga sekitar sungai, RT, RW, Lurah hingga Camat. Untuk pimpinan wilayah agar mereka tahu langkah apa yang akan dilakukan,” tambah Prayitno.
“Selanjutnya, notifikasi itu kami harap bisa sampai ke pimpinan, dalam hal ini bapak Sekda Kota Malang,” tukas Prayitno. (mg1/bob)









