KOTA MALANG – Pelaksanaan vaksinasi simbolis di pemerintah pusat, menyertakan influencer untuk divaksin. Raffi Ahmad, selebriti papan atas tanah air memperoleh kesempatan berharga tersebut.
Menyikapi hal ini, pengamat komunikasi dari Universitas Brawijaya (UB), Abdul Wahid, mengatakan hal tersebut memiliki nilai berharga. Menurutnya, keterlibatan influencer juga signifikan. Sebab, kata Wahid di era media sosial pengaruh mereka amat besar. Karenanya, influencer yang diminta juga harus kredibel.
“Tenar aja nggak cukup. Tapi perlu diperhatikan kredibilitasnya. Artinya pola komunikasinya perlu diperhatikan. Termasuk dampaknya secara luas,” ujarnya.
Keikutsertaan influencer, lanjut Wahid merupakan keniscayaan. Apalagi, di ranah media sosial banyak publik yang merasa punya keterikatan dengan influencer yang mereka ikuti. Itu membuat jangkauan informasi yang diterima menjadi lebih luas.
Dengan melibatkan influencer, lanjut Wahid, pemerintah pusat berupaya meyakinkan publik terkait keamanan vaksin. Menurutnya, ini merupakan langkah yang bisa diapresiasi, mengingat selama ini strategi komunikasi kurang kolaboratif.
“Negara juga perlu untuk menjaga komunikasi dengan tokoh masyarakat yang memperoleh vaksinasi secara simbolis. Artinya, perlu dikontrol setelah divaksin akan menyampaikan apa atau melakukan apa,” ujar Wahid.
Kendati demikian, Wahid tidak memungkiri bahwa hal tersebut bisa menjadi bumerang. Ia mencontohkan bagaimana Raffi Ahmad kemudian malah bepergian setelah disuntik vaksin. Ini merupakan preseden buruk bagi persepsi masyarakat. Pasalnya, setelah divaksin bukan berarti serta-merta menjadi aman.
Untuk itu, Wahid menjelaskan bahwa komunikasi antara penyelenggara negara dengan tokoh perlu dihitung dengan cermat. Menurutnya, tokoh-tokoh influencer perlu yang kredibel dan punya perhatian pada persoalan kesehatan pada masyarakat. Kemudian, perlu diperhatikan pula keadaan sosial masyarakat di daerah.
Perlu diketahui, Walikota Malang, Sutiaji masih menyimpan nama-nama penerima vaksin secara simbolis. Sebab, pihaknya sedang mengajukan surat kesediaan pada sejumlah tokoh masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, tokoh vaksinasi simbolis masih diupayakan, antara lain tokoh masyarakat, tokoh agama hingga jajaran Forkopimda.
“Februari masih satu bulan lagi. Di surat yang kami ajukan, batasnya tanggal 20 Januari nanti keputusannya bersedia atau tidak,” ujarnya pada awak media, Kamis (14/1)










Balas
Lihat komentar