Harga Jual Anjlok, 400 Ton Cabai Dibiarkan Membusuk di Pohon

Petani Cabai
Petani Cabai - Foto: Bob Bimantara Leander

KABUPATEN MALANG – 50 hektar tanaman cabai di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang dibiarkan tidak dipanen. Padahal, cabai tersebut sudah berbuah bagus. Namun cabai itu dibiarkan tetap di batang hingga akhirnya membusuk. Bila dihitung, total ada sekitar 400 ton.

Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kecamatan Poncokusumo, Syaiful Asyari memberikan alasan kenapa cabai itu tidak dipanen.

Dijelaskan Syaiful, hal itu karena murahnya harga jual cabai. Satu kilogram cabai hanya dihargai Rp 5000.

Padahal, biaya produksi dari pemupukan hingga membayar petani untuk memetik hasil panen cabai bisa mencapai Rp 4000.

“Jadi dengan beban produksi yang banyak dan harga murah itu petani sini memilih tidak memanen dan membiarkan cabai itu membusuk. Satu hektar itu padahal bisa menghasilkan 8 ton cabai. Jadi cukup banyak cabai yang dibiarkan tidak di panen,” tuturnya.

Artinya, bila ada 50 hektar tanaman cabai, setidaknya ada sekitar 400 ton cabai yang dibiarkan membusuk.

Syaiful juga menjelaskan murahnya harga jual cabai itu diakibatkan oleh adanya pandemi Covid-19. Pengepul sejak Covid-19 ini selalu mematok harga murah. “Tidak tahu alasannya apa. Biasanya kalau ideal itu ya Rp 7000 sampai 8000 per kilogram,” imbuh Syaiful.

Nahasnya, kata Syaiful, petani cabai tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka enggan memprotes atau mengajukan kenaikan harga jual cabai ke pengepul. “Mereka sementara ini hanya duduk manis saja. Ada memang yang mengganti lahan tapi kebanyakan ya duduk manis saja,” tutupnya.

Exit mobile version