Duta Damai Indonesia : Tragedi Kanjuruhan Harus Segera Temui Titik Temu

Suporter Arema Malang meletakkan bunga untuk korban Tragedi Kanjuruhan saat mengikuti doa bersama dan tabur bunga di depan Balaikota Malang, Rabu (5/10/2022) (blok-A/Syams Shobahizzaman)
Suporter Arema Malang meletakkan bunga untuk korban Tragedi Kanjuruhan saat mengikuti doa bersama dan tabur bunga di depan Balaikota Malang, Rabu (5/10/2022) (blok-A/Syams Shobahizzaman)

Kota Malang, Blok-a.com – Duta Damai Indonesia Andika Adikrisna turut bersimpati kepada korban dalam peringatan setahun Tragedi Kanjuruhan.

Memperingati tanggal 1 Oktober atau setahun peringatan Tragedi Kanjuruhan membuat Andika simpati.

Dia kembali merefleksikan soal kejadian itu, dimana para korban yang duduk di tribun menjadi imbas dari kefanatikan dan penanganan konflik yang kurang baik.

“Sungguh sangat disayangkan, tragedi ini berimbas kepada saudara-saudara penonton yang justru duduk tribun, menjadi korban atas kesalahan kefanatikan sesama dan kurangnya manajemen konflik petugas keamanan,” ujar dia, pada  Senin (1/10/2023).

Dia memahami mengapa banyak pihak yang masih ingin mengusut tuntas peristiwa tersebut. Kesigapan pemerintah dan pihak yang bertanggung jawab dinilai kurang bahkan sangat minim. Sehingga, hal tersebut menimbulkan ambiguitas dalam sisi keadilan.

“Selain itu kesigapan pemerintah dan pihak terkait menangani tragedi ini, dinilai minim karena menimbulkan ketidakjelasan dalam keadilan,” lanjut dia.

Persoalan tersebut justru melahirkan tidak adanya kepastian tindakan hukum.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, pihak keluarga korban masih mengajukan kembali permohonan kepada Polres Malang untuk mengusut kembali peristiwa tersebut, baru-baru ini. Mereka juga meminta tanggal 1 Oktober menjadi hari Hari Duka Sepak Bola Nasional. Andika menilai, para keluarga korban hanya ingin kepastian tindakan hukum yang tegas bagi pihak yang bertanggung jawab.

“Transparansi yang diagungkan nyatanya tidak berujung dengan kepastian tindakan hukum. Serta, belum membaiknya sistem persepakbolaan Indonesia yang seharusnya sebanding dengan prestasi Muda para pesepak bola Indonesia kini,” papar dia.

Andika kembali mengingatkan tragedi kanjuruhan bisa menjadi momen untuk saling berbenah. Tidak hanya pihak suporter Arema saja, namun juga penegak hukum. Dia juga menyebut bahwa pelajaran tersebut untuk seluruh suporter sepak bola yang ada di Indonesia.

“Bukan hanya untuk Arema yang sudah mendarah-birukan dan menjadi identitas dimanapun, tapi juga untuk seluruh suporter dan pecinta sepak bola Indonesia. Bahwa cinta yang fanatis pun bisa menimbulkan luka dan kekecewaan mendalam di dunia yang fana ini. Salam Damai!” tandasnya. (mg2/bob)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?