DLH Kota Malang Produksi BBM dari Sampah Plastik, Dipakai Operasional Truk

Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang saat diwawancarai awak media (blok-a.com / Bob Bimantara)
Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang saat diwawancarai awak media (blok-a.com / Bob Bimantara)

Kota Malang, blok-a.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memanfaatkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Teknologi yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang itu mampu mengubah sampah plastik bernilai ekonomi rendah menjadi bahan bakar bernama Petasol.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan bahan baku yang digunakan merupakan sampah plastik non-value atau plastik yang sulit didaur ulang dan memiliki harga jual sangat rendah.

“Yang diolah adalah sampah plastik non-value. Kalau botol plastik atau tutup botol masih punya nilai jual. Tetapi plastik kresek, bungkus mi instan, bungkus kopi dan sejenisnya itu yang kami manfaatkan karena kalau dijual hanya sekitar Rp300 sampai Rp400 per kilogram,” ujar Raymond.

Menurut Raymond, dari sekitar 200 kilogram sampah plastik, mesin pirolisis mampu menghasilkan sekitar 130 liter BBM dengan kualitas yang diklaim setara bahkan di atas Dexlite.

“Dari 200 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan sekitar 130 liter solar. Kualitasnya di atas Dexlite atau mendekati Pertadex,” katanya.

Ia menjelaskan, alat pirolisis tersebut mulai dimiliki DLH Kota Malang sejak 2025. Saat ini, hasil produksi Petasol belum diperjualbelikan karena masih dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional internal.

“Yang dihasilkan saat ini kami gunakan sendiri untuk mesin diesel dan operasional kendaraan. Setelah ada kenaikan harga solar, bahan bakar ini juga membantu memenuhi kebutuhan operasional,” jelasnya.

Saat ini, BBM hasil pengolahan sampah plastik tersebut baru dimanfaatkan untuk dua unit truk operasional DLH Kota Malang karena kapasitas produksinya masih terbatas.

“Sementara baru digunakan untuk dua truk karena hasil produksinya memang belum banyak,” pungkas Raymond. (bob)

Exit mobile version