Kota Malang, blok-A.com – Becak kian tergerus oleh masa. Semakin berkembangnya teknologi, persaingan begitu ketat dengan adanya transportasi online. Di Kota Malang sendiri, tukang becak selalu nangkring di pinggiran Tugu Malang, Stasiun, ataupun di tempat lainnya.
Lantas, apa alasan mereka tetap menggunakan becak, sebagai sumber penghasilannya? Ini jawaban salah satu tukang becak di kawasan Tugu Kota Malang.
Samuri, pria tua berumur 57 tahun tersebut, sedang menunggu penumpangnya di sebelah kantor Balai Kota Malang. blok-A.com datang menghampiri dan menyapanya. Ia pun menuturkan alasannya, tetap menjadi tukang becak selama 37 tahun lamanya.
“Sudah 37 tahun mas jadi tukang becak, alasannya ya karena tidak bisa naik motor mas, mau ngojek tidak bisa,” tuturnya pada Senin (19/09/2022).
Disamping itu juga ,Samuri harus mencari nafkah untuk anak istrinya. Ia pun memilih becak sebagai sumber penghasilannya. Selain itu, ia juga seorang buruh tani di desanya.
“Buat nafkahi anak dan istri. Kalau becak sepi, ya saya jadi buruh tani di desa. Nyangkul ataupun cari rumput buat sapi,” kata Samuri.
Penumpang becak makin hari makin menipis. Hal tersebut dibenarkan oleh Samuri, sebagai tukang becak di Kota Malang.
“Penumpangnya tidak ada mas, karena semakin maju dan semunya serba online,” tuturnya.
Selama satu minggu, Samuri hanya mendapatkan tiga penumpang saja. Belum lagi kepotong oleh setoran, karena becak itu bukan miliknya sendiri. Jauh dekatnya, ia mengatakan bisa mendapat Rp 10 ribu – Rp 20 ribu.
Terlintas, sama dengan pemikiran sopir angkot minggu lalu, ia pun merasakan bahwa era Soeharto lah, yang membuat raykat kecil hidup makmur.
“Tidak musti dapatnya mas, selama sebulan harus setor Rp 75 ribu. Enak di era Soeharto, rakyat kecil mencukupi. Sehari bisa dapat Rp 20 saja sudah besar banget,” ungkapnya.
Samuri tidak ingin menghabiskan waktunya sebagai tukang becak. Salah satu alternatif lainnya yaitu sebagai buruh tani. Ia mengungkapkan bahwa pulang kerumah cukup hanya 1 bulan sekali.
“Tidur di becak mas, satu bulan sekali pulang ke rumah. Jadi sampai cukup setorannya, baru pulang,” tutup Samuri.
(mg1/bob)




