Di Aksi Damai, Keluarga Korban Kanjuruhan: ‘Kami Hanya Ingin Aparat Mengaku dan Meminta Maaf’

Di Aksi Damai, Keluarga Korban Kanjuruhan: 'Kami Hanya Ingin Aparat Mengaku dan Meminta Maaf'
Di Aksi Damai, Keluarga Korban Kanjuruhan: 'Kami Hanya Ingin Aparat Mengaku dan Meminta Maaf'

Kota Malang, blok-a.com — Keluarga korban Tragedi Kanjuruhan ikuti aksi turun jalan Aremania, Minggu (20/11/2022).

Solikha (49) dan Sugeng (52), orang tua dari Alfinia Maharani Putri (20) yang menjadi korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober lalu. Keluarga tersebut tinggal di Jalan Selorejo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Kedua orang tua korban mengikuti acara Aksi Damai Aremania hari ini, Minggu (20/11) bersama dengan ke dua anak lainnya yang selamat dari Tragedi mematikan di Kanjuruhan tersebut.

Mereka melakukan long march bersama rombongan Aremania dari Pizza Hut Soekarno Hatta menuju Jembatan Soekarno Hatta kemudian kembali menuju ke arah patung pesawat.

“Kami tadi dari Jalan Selorejo, terus ikut kumpul di Pizza Hut situ sama rombongan lainnya,” ujar Solikha pada wartawan Blok-a.com, Minggu (20/11).

Solikha menceritakan bahwa anak putri satu-satunya tersebut adalah anak yang baik, rajin, dekat dengan orang tua, dan paling mengerti keadaan keluarga. Sang ibu juga menuturkan bahwa anaknya memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah tahun depan.

“Dia anaknya baik, nggak macem-macem. Sama saya itu terbuka sekali, apa aja dia ceritain. Dia lulus sekolah langsung kerja dan rencananya mau kuliah tahun depan, tapi takdir berkata lain,” tutur Solikha.

Sugeng (52), Ayah korban, mengatakan bahwa korban memang sering melihat pertandingan Arema. Ia menilai bahwa anaknya mengerti tata cara menonton yang benar.

“Dia itu anak yang ngerti cara nonton bola, mulai dari beli tiket, di tribun harus ngapain itu dia tahu,” ujar Sugeng.

Terpisah, Solikha menyebutkan bahwa anak Alfinia Maharani Putri adalah anak yang manja jika sedang bersama ayahnya. Maka dari itu, sepeninggalan Alfinia, ayahnya sangat terpukul.

“Yang paling terpukul itu pertama ayahnya, soalnya memang dia paling dekat itu sama ayahnya,” tutur Solikha.

Kedua orang tua korban mengaku bahwa mereka tidak peduli dengan urusan politik apa dibalik Tragedi Kanjuruhan ini, yang jelas mereka meminta agar aparat segera mengakui dan meminta maaf kepada seluruh keluarga korban.

“Saya nggak peduli mau ada urusan politik apapun, saya cuman mau aparat, baik itu kepolisian maupun TNI, meminta maaf dan mengakui siapa yang memerintah mereka pada saat itu terutama para eksekutor,” tegas Sugeng.

Lebih lanjut, Sugeng juga mengatakan bahwa ia tidak memiliki dendam apapun kepada para aparat, dirinya sudah mengikhlaskan anaknya.

“Hukuman tetap harus berjalan, cuman saya ngga akan dendam sama aparat, kalau mereka datang ke rumah juga ngga akan saya bunuh, saya cuman ingin dengar mereka meminta maaf dan mengakui kesalahannya,” pungkasnya. (mg1/bob)

Exit mobile version