Alhasil, ini membuat beberapa wilayah di Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) menjadi bersuhu lebih dingin.
Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut memengaruhi suhu dingin pada malam hari. Pasalnya, tidak adanya uap air sehingga energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.
Tak cuma itu, awan langit yang cenderung bersih (clear sky) menyebabkan radiasi langsung dilepas ke atmosfer luar. Akibatnya, udara dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.
Seperti halnya fenomena aphelion, peristiwa ini merupakan hal yang biasa terjadi setiap tahun. Fenomena ini pula yang dapat meningkatkan potensi terjadinya embun es. Misalnya yang terjadi di kawasan Pegunungan Dieng, Jawa Tengah pada beberapa bulan selama 2022 lalu. (gni)



