Begini Penampakan Instrumen Rindik, ‘Angklung’ Khas Bali di Museum Musik Dunia

Instrumen Rindik
Instrumen Rindik di Museum Musik Dunia. Foto: JTP

KOTA BATU – Kebudayaan dan kearifan musik Bali dapat dilihat dari banyaknya jenis instrumen di sana, salah satunya yakni rindik. Di Museum Musik Dunia yang terletak di Jawa Timur Park (JTP) 3, alat musik ini diabadikan bersama ratusan alat musik legendaris dunia lainnya.

Rindik menjadi salah satu instrumen tradisional yang membawa ciri khas dari adat dan budaya Bali.

Rindik terbuat dari bambu bernada selendro dengan lima nada dasar. Rindik dimainkan dengan cara dipukul. Alat musik ini biasa dimainkan oleh 2-5 orang pemain, di mana 2 orang menabuh Rindik dan sisanya untuk seruling dan gong pulu.

Pada awalnya, rindik hanya dibuat sebagai alat untuk menghibur para petani di sawah. Rindik juga biasa digunakan sebagai musik pengiring hiburan rakyat, yakni Joged Bumbung.

Seiring dengan perkembangan zaman, kini Rindik sudah lebih fleksibel dalam pemakaiannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai pelengkap untuk acara pernikahan, hingga untuk menyambut tamu penting.

Sejarah keberadaan instrumen rindik berawal ketika pihak Wengker (sekarang Ponorogo) melakukan pemberontakan kepada Majapahit. Banyak angklung Reog yang merupakan senjata kerajaan Majapahit ditinggal di kerajaan.

Saat serbuan dari Demak, angklung-angklung dan gamelan tersebut dibawa ke Bali hingga mengalami kerusakan.

Setibanya di Bali, orang Majapahit kesulitan saat merangkai gamelan-gamelan yang rusak tersebut, termasuk Angklung.

Ditemukanlah cara bahwa meski angklung di Bali tidak seperti bentuk umumnya, tetapi alat itu tetap dapat menghasilkan suara dengan cara dipukul layaknya gamelan yang terbuat dari logam.

Angklung ini kemudian berubah nama menjadi rindik, yang artinya diambil dari bahasa Jawa kuno dengan arti “ditata dengan rapi dengan celah yang sedikit”.`1

Exit mobile version