Bakat Melukis Sejak SD, Karya Sadikin Pard Melancong hingga Swiss

Sadikin Pard
Sadikin Pard

BLOK-A – Sadikin Pard boleh jadi adalah satu talenta berharga dari Kota Malang. Ia merupakan pelukis yang menggunakan kakinya, berbeda dengan kebanyakan yang melukis memakai tangan.

Kariernya telah menembus dunia internasional. Hal itu dibuktikan dengan dirinya yang tergabung dalam sebuah asosiasi yang berpusat di Swiss.

Asosiasi itu adalah Association of Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA). Para seniman lukis menggunakan kaki dan mulut dari seluruh dunia dikumpulkan ke dalam perkumpulan tersebut. Anggotanya akan diarahkan untuk lebih produktif dalam berkarya serta membantu menambah pundi-pundi pendapatan dari sana.

“Saya sudah jadi anggota AMFPA sejak 1989. Anggotanya adalah pelukis menggunakan kaki dan mulut dari berbagai negara. Indonesia memiliki empat anggota tetap, saya salah satunya,” tutur Sadikin.

Setiap anggota AMFPA diwajibkan mengirim minimal 15 karya setiap tahun. Karya harus memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga tidak bisa sembarangan.

“Biasanya tema Natal dan Valentine adalah yang paling ditunggu mereka. Tapi, makin ke sini, lukisan bertema kebudayaan negara lokal punya daya tarik tersendiri. Semua pelukis diminta mengirim karya dengan standar kualitas yang cukup tinggi,” cerita Sadikin di antara ambil video obrolan bersama ABM Inside di Shalimar Boutique Hotel Malang

Alasan AMFPA menerapkan peraturan demikian karena mereka merupakan asosiasi komersial. Target pun cukup tinggi pun diberikan bagi para pelukis di bawah naungannya. Karya bisa saja ditolak jika tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

“Karya-karya kami akan direproduksi untuk kemudian dijadikan sebagai kartu ucapan. Lalu mereka akan menyebarkannya ke seluruh dunia,” tutur Sadikin.

Ia pernah diundang oleh panitia pameran lukisan Istana Kepresidenan yang diadakan di Galeri Nasional Indonesia pada bulan Agustus 2017. Kesempatan tersebut ia maksimalkan untuk memberi motivasi dan lokakarya bagi pelukis difabel lainnya.

Dengan pengakuan yang besar itu, nama Sadikin telah diperhitungkan di kancah dunia seni Indonesia. Maka, wajar jika ia juga jadi pengajar seni lukis di dua Universitas di Kota Malang. Harapannya, Sadikin bisa memberikan motivasi bagi para mahasiswa.

Kemahiran Sadikin dalam melukis telah terlihat sejak sekolah. Ia sudah menjuarai sejumlah lomba menurut data yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia pernah juara 2 lomba Catur tingkat Kota Surakarta dan lomba Kristik pada 1978. Presiden Soeharto menyerahkan hadiah berupa mesin tik kuno yang masih disimpan sampai sekarang.

Di bangku SMP, orang tua Sadikin mengikutkannya dalam kursus pribadi melukis selama dua bulan. Pelatihan itu pun jadi fundamental dalam mengarungi dunia seni lukis yang ia tekuni hingga kini.

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com