Kota Malang, blok-a.com – Nama-nama korban tragedi Kanjuruhan dibacakan satu per satu dalam aksi teatrikal bertajuk “Pohon Doa” di Balai Kota Malang, Kamis (1/10/2026) malam.
Satu per satu nama korban disebut dalam suasana hening, kemudian diikuti pembacaan Al-Fatihah. Nama-nama tersebut kemudian ditempatkan dalam sebuah pot berwarna hitam yang diangkat di atas kepala oleh sosok boneka kayu.
Aksi tersebut menjadi bagian dari peringatan empat tahun tragedi Kanjuruhan. Sejumlah lilin juga dinyalakan mengelilingi kaos bertuliskan “Justice For The 135+” sebelum rangkaian pembacaan nama korban dimulai.
Karya “Pohon Doa” diinisiasi Malang Performance Art Community (MAPAC). Sogeh Ahmad, performance art, mengatakan karya tersebut merupakan bagian dari rangkaian perform yang beberapa kali ia buat untuk mengangkat tragedi Kanjuruhan.
“Jadi, tadi nama-nama korban tragedi ditaruh di pot. Nah, posisi potnya ditaruh di atas kepala. Itu lebih ke biar Kanjuruhan ini selalu jadi hal yang selalu diingat sama kita-kita, jangan sampai dilupa,” katanya.

Sogeh mengatakan, karya tersebut muncul dari kegelisahannya melihat euforia sepak bola yang masih tinggi, sementara tragedi yang menewaskan 135 orang berpotensi dilupakan.
“Karena kalau yang saya lihat ya, euforia tentang sepak bola itu masih tinggi gitu. Kita lupa kalau pernah ada kejadian 135 orang yang meninggal. Nah itu yang saya sayangkan,” ujarnya.
Memasuki empat tahun tragedi Kanjuruhan, Sogeh menilai persoalan keadilan masih menjadi hal yang berat untuk diperjuangkan. Namun, ia memilih menekankan pentingnya menjaga ingatan terhadap tragedi tersebut.
“Paling tidak kan, ingatan kita tentang Kanjuruhan ini jangan sampai hilang, harus selalu ingat bahwa pernah ada kejadian itu,” katanya.
Pembacaan nama korban satu per satu juga menjadi bagian yang emosional bagi Sogeh. Ia mengaku merasakan kesedihan ketika mulai menyebut nama korban pertama dalam rangkaian doa.
“Membaca yang pertama tadi itu emosinya tuh beda. Jadi, tiba-tiba saya kayak mau nangis tadi, saat baca nama korban yang pertama saya merasa sedih gitu,” ungkapnya.
Sementara itu, Jack, salah satu performance art yang membantu Sogeh, mengatakan masyarakat masih membutuhkan kejelasan hukum terkait tragedi Kanjuruhan. Menurutnya, kejelasan tersebut penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kita masyarakat butuh kejelasan hukum. Saya takutnya ini kalau terjadi hari ini akan terulang lagi kalau misalkan ada tragedi-tragedi besar lainnya,” tuturnya.
Tragedi Kanjuruhan, kata Jack, juga menjadi momentum untuk merefleksikan sikap masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan. Ia berharap pihak yang merasa bertanggung jawab berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada keluarga korban.
“Siapa yang merasa bertanggung jawab terhadap tragedi ini, minta maaf lah sekali aja. Itu, saya yakin keluarga korban itu pasti menerima itu. Tapi kan nyatanya enggak pernah ada,” ujarnya.
Usai rangkaian aksi, massa membubarkan diri dengan tertib dan kondusif sekitar pukul 19.00 WIB. Selanjutnya, sejumlah massa melanjutkan napak tilas menuju Stadion Kanjuruhan untuk berkumpul di Gate 13 dan mendoakan para korban tragedi Kanjuruhan. (ber/bob)









