5 Fakta Kasus Perundungan Binus School BSD yang Libatkan Anak Vincent Rompies

Ilustrasi perundungan (foto: Shutterstock)

Blok-a.com – Belakangan ini media sosial diramaikan dengan kasus bullying atau perundungan yang terjadi di Binus School International BSD Serpong.

Kasus perundungan ini terungkap usai diunggah oleh akun X @bospurwa. Dalam unggahannya, pemilik akun menjelaskan bahwa korban dibully oleh belasan orang yang merupakan seniornya.

“Gw dapat info, ada perundungan di SMA Binus Intl BSD, seorang anak dipukulin sama belasan seniornya hingga masuk rumah sakit. Mereka anak-anak pesohor, dan ngerinya lagi sampai disundut rokok!,” tulis keterangan unggahan dikutip Blok-a.com, Selasa (20/2/2024).

Tak lama setelah diunggah, kasus ini pun sontak menuai berbagai tanggapan warganet, lantaran salah satu pelaku diduga anak artis Vincent Rompies.

Dirangkum Blok-a.com, Selasa (20/2/2024), berikut deretan fakta terkait kasus perundungan yang melibatkan anak Vincent Rompies.

Pelaku Anggota Geng

Dalam unggahan akun X @bospurwa, terdapat tangkapan layar unggahan Instagram yang menyebut bahwa aksi perundungan ini dilakukan oleh beberapa siswa yang tergabung dalam sebuah geng.

Korban yang merupakan calon anggota geng disebut harus melakukan beberapa hal yang diminta oleh senior, seperti membelikan makanan, menuruti perintah, dan menerima jika dihukum.

Keuntungan bergabung dengan geng ini disebut bisa mendapat status hierarki yang lebih tinggi dibanding siswa lain. Siswa yang tidak bergabung ke dalam geng kerap mendapat perundungan bahkan pemukulan.

Korban Alami Luka Bakar – Memar

Berdasarkan hasil pemeriksaan luar, Kanit PPA Polres Tangerang Selatan Ipda Galih mengatakan bahwa korban mengalami sejumlah luka memar hingga luka bakar.

“Di sebagian tubuhnya ada banyak luka memar, juga ada luka bakar akibat terkena suatu benda yang panas,” kata Ipda Galih dilansir dari Detikcom, Selasa (20/2/2024).

Lebih lanjut, Galih menjelaskan jika aksi perundungan ini dilakukan lebih dari satu orang. Namun hingga kini petugas kepolisian masih menyelidiki pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.

“Yang melakukan perundungan itu lebih dari 1 pelaku yang masih dalam penyelidikan,” ungkap Galih.

Polisi Sebut Terjadi Dua Kali

Pihak kepolisian juga menyebut jika kasus perundungan siswa Binus Serpong ini terjadi dua kali, tepatnya pada 2 Februari dan 13 Februari 2024.

“Untuk kronologisnya dari keterangan sementara yang kita dapatkan, diduga terjadi tindakan kekerasan itu sekitar dua kali. Yaitu pada tanggal 2 Februari dan tanggal 13 Februari,” Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Alvino Cahyadi.

Namun, Alivno belum bisa merincikan terkait bentuk kekerasan dan lokasi perundungannya. Ia mengaku masih menggali informasi dari saksi-saksi, baik dari korban maupun pihak keluarga.

“Untuk saksi yang diperiksa dari pihak korban dan keluarga. Untuk bukti sementara kami dari rekaman video. Kemudian ada beberapa bukti lainnya,” kata dia.

Pihak Sekolah Tindak Tegas

Setelah menjadi perbincangan di media sosial, pihak Binus School akhirnya buka suara. Public Relation Binus School Haris Suhendra mengatakan bahwa pihak sekolah tidak mentoleransikan segala hal tindakan kekerasan.

“Binus School Serpong tidak akan mentoleransi tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun,” jelas Haris.

Saat ini, kata Haris, pihak sekolah telah memanggil siswa-siswa yang terlibat dan nantinya mereka akan memberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

“Sejauh ini dalam penanganan sekolah dan menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti, sejauh ini kita sudah memanggil yang terlibat dan masih dalam proses. (Sanksi) mengikuti aturan sekolah yang sudah ada,” tuturnya.

Anak Vincent Terlibat

Haris juga membenarkan terkait keterlibatan anak Vincent Rompies dalam kasus perundungan ini. Namun, ia belum bisa membeberkan sanksi yang akan diberikan lantaran masih melakukan pemanggilan orang tua dalam waktu dekat.

“Iya (anak Vincent Rompies terlibat), Masih dalam proses pemanggilan (orang tua),” ujar Haris. (hen)

Kirim pesan
Butuh bantuan?
Hai, apa kabar?
Apa yang bisa kami bantu?