2000 Lebih Petani Kota Batu Masih Sekadar Terima ‘Janji Manis’ Kartu Tani

Lahan Pertanian Di Kota Batu
Lahan Pertanian Di Kota Batu sedang Digarap petani - Foto: Pungky Ansiska

KOTA BATU – Progam pemberian kartu tani di Kota Batu ternyata belum tuntas. Masih ada sekitar 2.765 petani yang sudah terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) namun belum memiliki kartu tani.

Padahal kartu yang dibuat seperti ATM khusus petani ini menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan pupuk subsidi dari pemerintah yang mulai diterapkan secara digital. Akibatnya petani masih melakukan transaksi pupuk subsidi secara konvensional. Sedangkan sampai saat ini baru 5.742 petani yang sudah pegang kartu tani di Kota Batu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Sugeng Pramono mengatakan pihaknya sering melakukan koordinasi dengan Kementerian Pertanian. Terlebih terkait kartu tani yang belum merata namun ternyata permasalahan ini menjadi kewenangan dari pihak bank yang bekerja sama yaitu Bank BNI 46.

”Kami terus berkoordinasi agar dapat menerima semua kartu tani. Pihak bank juga telah berjanji segera menyelesaikannya sesegera mungkin,” terang Sugeng.

Sampai saat ini ada 8.507 petani yang telah masuk e-RDKK atau masuk dalam kelompok tani (poktan) dari tahun sebelumnya 6.285 petani. Atau, ada penambahan sebanyak 2.222 petani pada tahun 2021 ini. Dari sekian jumlah petani yang ada, sebanyak 2.765 petani yang belum memiliki kartu tani.

”Lalu, untuk petani dari tahun 2020 sampai sekarang yang belum tercetak jumlahnya sekitar 543 petani,” katanya.

Selain itu, permasalahan lainnya yang dialami petani yakni masih ada yang belum menjadi anggota kelompok tani. Diperkirakan jumlahnya sekitar 21 ribu petani. Berbagai upaya terus dilakukan masalah satunya dengan meminta pihak desa/kelurahan di Kota Batu melakukan himbauan ke petani agar segera menjadi anggota kelompok tani.

“Syarat mendapatkan kartu tani ini, mereka harus bergabung dengan kelompok tani. Makanya kami berkoordinasi dengan wilayah masing-masing agar PPL (Penyuluh Pertanian Lapang) bisa langsung ke petani,” imbuhnya.

Exit mobile version