Malang, Blok-a.com – Kelompok musik etnik Arca Tatasawara akan menggelar konser tunggal bertajuk Harmoni Candi Nada Zaman pada Minggu, (10/8/2025). Pertunjukan ini akan berlangsung di Candi Kidal, Tumpang, Kabupaten Malang, dan terbuka untuk umum meski terbatas hanya untuk 300 penonton.
Konser ini merupakan bentuk deklarasi resmi Arca Tatasawara sebagai kelompok musik yang mengusung misi kebudayaan melalui karya lintas genre.
Arca Tatasawara sendiri berisi 7 personel yakni Nova (vokal), Koko (gitar), Adit (drum), Cak Mad (bass), Fisal (suling, terompet, kendang), Toetut (biola) dan Aak (sapek). Para personel datang dari latar belakang musik yang berbeda, mulai dari tradisi hingga jazz. Bagi Nova, hal ini sempat menjadi tantangan tersendiri di awal.
“Awalnya sulit banget karena masing-masing punya gaya sendiri. Tapi di sinilah letak tantangannya. Gimana caranya bisa menyatu dalam satu bahasa musik,” ujar Nova saat konferensi pers di Malang Creative Center (MCC), Rabu (6/8/2025).
Nova menyebut, setiap lagu Arca Tatasawara dirancang sebagai upaya menghubungkan kembali masyarakat, terutama generasi muda, dengan warisan budaya.
Konser malam hari nantinya akan menampilkan delapan lagu bertema Nusantara. Mulai dari “Jegeg Sajan” bernuansa Bali, lalu lagu “Nusantara”yang melibatkan Reog Ponorogo dan Barong, hingga “Javabian” yang dikolaborasikan dengan tari sufi. Lagu-lagu baru seperti “Merantau” dan “Singgah” juga akan dibawakan.
“Di lagu Merantau warnanya ke musik Minang, tentang perjalanan meninggalkan kampung halaman. Sementara Singgah, itu warna Tionghoa yang menceritakan akulturasi budaya dari kedatangan China ke Indonesia,” jelas Nova.
Arca Tatasawara juga akan berkolaborasi dengan Sanggar Ginaris Art pimpinan koreografer Fima Wijaya. Di lagu “Malang”, pertunjukan tari topeng akan tampil merespons langsung musik. Sementara lagu “Garudeya”akan dikolaborasikan dengan dramatari bertajuk Ambabad Bakti Suci, yang mengangkat kisah pembebasan Garuda seperti yang terukir di relief Candi Kidal.
“Ini bukan tari pengiring, ini adalah bentuk harmonisasi dan sinkronisasi antara koreografi dan musik, merespons lagu melalui gerak dan tari,” ujar Fima.
Tak hanya konser, sepanjang hari pengunjung akan disuguhi beragam aktivitas budaya. Seperti Sound Healing, On The Spot Live Painting, Edukasi Pertunjukan Tari, dilanjutkan Ajar Budaya Arkais, dan masih banyak lagi.
Puncak rangkaian acara tersebut akan dimulai pukul 19.00 lewat doa bersama dan pemotongan tumpeng tasyakuran. Dipimpin oleh tokoh budaya seperti Ki Ardhi, Ki Soleh, Ki Suroso, serta Mala Lontar dari Banyuwangi. Di saat yang sama akan diserahkan sertifikat penghargaan dari Arca Tatasawara kepada para kolega dan tokoh yang mendukung lahirnya proyek ini.
Arca Tatasawara tak sekadar tampil sebagai kelompok musik. Bagi Aak (Agus Wayan), yang juga penggagas grup ini, musik adalah alat untuk menghidupkan kembali kesadaran akan budaya.
“Kami launching Arca Tatasawara sebagai simbol. Tidak hanya tentang musik, tapi gerakan kecil untuk mengenalkan kembali situs-situs budaya di sekitar kita,” terang Aak.
Melalui pertunjukan ini, Arca Tatasawara tak hanya memperkenalkan diri sebagai kelompok musik etnik-kontemporer. Sekaligus juga mempertegas komitmen mereka dalam menjadikan musik sebagai sarana melestarikan dan menghidupkan ulang warisan budaya Nusantara. (ber)









