Gang Kolesterol di Tebuireng, Warung Kesukaan Gus Dur Siapkan 1.000 Porsi Kikil untuk Muktamar NU

Siti Munawaroh, pengelola Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” saat melayani pelanggan (Foto: Istimewa)
Siti Munawaroh, pengelola Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” saat melayani pelanggan (Foto: Istimewa)

Jombang, blok-a.com – Berkunjung ke Jombang untuk menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), rasanya belum lengkap tanpa menyempatkan diri menyambangi kawasan Balongbesuk, Kecamatan Diwek.

Di kawasan yang menjadi salah satu jalur menuju Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng dan makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu, terdapat sebuah kawasan kuliner yang cukup populer di kalangan warga dan peziarah. Warga setempat menjulukinya sebagai “Gang Kolesterol”.

Sebutan itu bukan tanpa alasan. Di sepanjang jalan, berderet warung dan lapak yang menawarkan sajian nasi lodeh kikil sapi, dengan kuah santan gurih dan potongan kikil yang empuk.

Di antara deretan warung tersebut, salah satu yang cukup dikenal adalah Warung Abang “Kesukaan Gus Dur”. Warung ini menjadi salah satu yang kerap didatangi peziarah ataupun warga Nahdliyin yang berkunjung ke kawasan Tebuireng.

Aroma santan, rempah dan kikil yang dimasak dengan bumbu khas langsung menyambut pengunjung yang datang. Menu sederhana berupa kikil sapi justru menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki cerita panjang yang berkaitan dengan sosok Gus Dur.

Warung Langganan Gus Dur

Siti Munawaroh, pengelola Warung Abang, mengatakan penyematan nama “Kesukaan Gus Dur” bukan sekadar strategi untuk menarik pelanggan.
Menurutnya, Gus Dur memang telah menjadi pelanggan warung tersebut sejak usaha kuliner itu masih dikelola generasi sebelumnya.

Usaha keluarga tersebut awalnya dirintis pasangan Haji Latif dan Hajah Sampurni. Usaha kemudian diteruskan oleh orang tua Munawaroh, Haji Erman atau Cak Man bersama Hajah Siti Qoirumlah. Saat ini, pengelolaan warung dilanjutkan Munawaroh bersama dua saudaranya, Siti Munazilah dan Muhammad Idris.

Munawaroh menuturkan, Gus Dur memiliki menu favorit yang hampir selalu dipesan ketika berkunjung. Kikil goreng dan lidah sapi menjadi pilihan Gus Dur. Keduanya kemudian disiram kuah lodeh santan dengan cita rasa gurih dan pedas.

Yang menarik, Gus Dur kerap menikmati hidangan tersebut tanpa nasi alias digado. Kebiasaan itu dilakukan Gus Dur baik sebelum maupun setelah dirinya menjabat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Setiap kali datang, Gus Dur juga tidak sendirian. Ia biasanya membawa rombongan besar, termasuk para santri ndalem yang mendampinginya.

Nama “Kesukaan Gus Dur” Jadi Daya Tarik

Setelah Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, para santri ndalem kemudian mengusulkan agar nama “Kesukaan Gus Dur” ditambahkan pada nama Warung Abang. Usulan tersebut kemudian mendapat persetujuan dari pihak keluarga Tebuireng.

Penambahan nama itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan dan kenang-kenangan terhadap Gus Dur yang dikenal dekat dengan masyarakat dan memiliki kesederhanaan dalam kesehariannya.

Sejak saat itu, warung tersebut semakin dikenal oleh peziarah yang datang ke Tebuireng. Banyak pengunjung sengaja mampir untuk bernapak tilas sekaligus mencoba makanan yang pernah menjadi kegemaran Gus Dur.

“Memang Gus Dur dulu sering ke sini. Beliau suka kikil goreng dan lidah sapi, kemudian diberi kuah lodeh,” tutur Munawaroh.

Siapkan 1.000 Porsi untuk Muktamar NU

Momentum Muktamar ke-35 NU di Jombang tahun ini turut membawa berkah tersendiri bagi Warung Abang “Kesukaan Gus Dur”. Meningkatnya jumlah muktamirin dan peninjau yang datang dari berbagai daerah membuat aktivitas warung semakin sibuk.

Untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah pengunjung, jam operasional warung disesuaikan. Warung mulai buka lebih awal, yakni sekitar pukul 15.00 WIB dan beroperasi hingga sekitar pukul 24.00 WIB. Namun, waktu tutup bisa lebih cepat apabila seluruh stok makanan telah habis.

“Kita buka jam 3 sore. Tutupnya menyesuaikan, bisa sampai jam 12 malam. Kalau stok habis ya tutup lebih awal,” ujar Munawaroh.

Kesibukan keluarga Munawaroh bahkan akan meningkat pada 29 Agustus 2026. Pada tanggal tersebut, Warung Abang “Kesukaan Gus Dur” dipastikan tutup sementara untuk pelayanan umum karena mendapatkan pesanan khusus sebanyak 1.000 porsi kikil untuk kebutuhan salah satu agenda Muktamar ke-35 NU.

“Insya Allah kita buka jam 3 sore. Tutupnya menyesuaikan, bisa sampai jam 12 malam. Tapi nanti tanggal 29 kita tutup karena ada pesanan untuk acara Muktamar,” katanya.

Bagi para muktamirin, peninjau maupun peziarah yang datang ke Tebuireng, mencicipi lodeh kikil di kawasan yang dijuluki “Gang Kolesterol” tersebut bisa menjadi pengalaman kuliner tersendiri.

Apalagi, di Warung Abang “Kesukaan Gus Dur”, seporsi kikil bukan sekadar hidangan. Di balik kuah santan dan potongan kikil yang empuk, tersimpan cerita tentang kebiasaan kuliner seorang tokoh bangsa yang pernah menjadi pelanggan setianya. Menyantapnya pun seolah menjadi bagian kecil dari napak tilas Gus Dur di kawasan Tebuireng.(Sya)

Exit mobile version