Guyonan Gus Dur di Muktamar Cipasung: “Daripada Dekat Presiden, Jadi Presiden Sekalian”

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (foto: wikimedia)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (foto: wikimedia)

Jombang, blok-a.com – Di antara sekian banyak sisi kehidupan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, humor menjadi salah satu hal yang paling melekat dalam ingatan masyarakat. Guyonan khas Gus Dur tidak hanya muncul dalam suasana santai, tetapi juga kerap hadir di tengah forum formal yang serius dan tegang.

Bagi Gus Dur, humor seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Dengan gaya khasnya, ia mampu mencairkan suasana sekaligus menyampaikan pesan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung.

Kebiasaan melontarkan humor tersebut tidak terlepas dari kultur pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) yang membesarkannya. Dalam tradisi pesantren dan NU, humor kerap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam berbagai forum pengajian dan tausiyah para kiai.

Humor Gus Dur juga mampu menembus berbagai sekat sosial. Guyonannya dapat dinikmati rakyat biasa, tokoh politik, pejabat negara hingga pemimpin dunia.

Sejumlah pemimpin dunia bahkan pernah dibuat tertawa oleh humor Gus Dur, di antaranya Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, Presiden Prancis Jacques Chirac, Raja Fahd dari Arab Saudi, hingga Presiden Kuba Fidel Castro.

Salah satu humor Gus Dur yang hingga kini dikenang terjadi menjelang dan saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1994. Saat itu, hubungan Gus Dur dengan pemerintahan Presiden Soeharto sedang tidak baik. Gus Dur dikenal kritis terhadap sejumlah kebijakan pemerintah Orde Baru.

Dalam buku Waiting for Nation, Adam Schwarz menuliskan bahwa Gus Dur bahkan pernah disebut menilai Soeharto sebagai “bodoh”. Ketegangan hubungan tersebut turut mewarnai pelaksanaan Muktamar NU ke-29.

Ketika pembukaan muktamar berlangsung, Gus Dur tidak ditempatkan untuk mendampingi Presiden Soeharto. Ia justru duduk di deretan kursi belakang bersama Megawati Soekarnoputri, yang kala itu merupakan Ketua Umum PDI. Sementara itu, tokoh yang mendampingi Soeharto dalam acara pembukaan adalah KH Ilyas Ruchiyat dan Rozy Munir.

Situasi serupa terjadi setelah acara pembukaan. Ketika Soeharto beristirahat di aula STAI Cipasung dan didampingi KH Ilyas Ruchiyat, Gus Dur tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan.

Gus Dur hanya berada di halaman. Momen tersebut kemudian menarik perhatian para wartawan. Mereka langsung mengerubungi Gus Dur dan menanyakan sikapnya karena tidak diperbolehkan berada dekat Presiden Soeharto.

“Gus, nggak boleh dekat-dekat presiden ya?” tanya salah seorang wartawan.

Dengan santai, Gus Dur menjawab, “Ah, nggak masalah.”

Wartawan tersebut kemudian kembali bertanya, “Nggak masalah gimana, Gus?”

Gus Dur pun melontarkan jawaban yang terdengar seperti guyonan, tetapi kelak justru menjadi kenyataan.

“Daripada mikirin ingin dekat-dekat presiden, lebih baik jadi presiden sekalian nanti,” ujar Gus Dur.

Ucapan tersebut kala itu terdengar sebagai selorohan khas Gus Dur. Namun, lima tahun kemudian, guyonan itu berubah menjadi kenyataan.

Pada 1999, setelah berakhirnya era Orde Baru dan berlangsungnya proses politik pascareformasi, Gus Dur terpilih sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia melalui mekanisme demokratis di MPR.

Guyonan Gus Dur di halaman STAI Cipasung pun kemudian dikenang bukan sekadar sebagai humor. Kalimat spontan tersebut menjadi salah satu kisah yang menggambarkan karakter Gus Dur: mampu merespons situasi sulit dengan humor, tetap tenang di tengah tekanan, sekaligus menyimpan keyakinan besar terhadap masa depan.

Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, kisah-kisah humor Gus Dur kembali relevan untuk dikenang. Bukan semata karena kelucuannya, tetapi karena di balik guyonan tersebut sering terselip keberanian, kritik sosial, optimisme, dan cara Gus Dur melihat persoalan kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.(Sya)

Exit mobile version