Malang, Blok-a.com – Di kawasan Bareng, Kecamatan Klojen, Malang, berdiri sebuah kafe yang menghadirkan nuansa berbeda. Ejji House Malang, yang berlokasi di Jalan Wuni No.8, tampil dengan desain minimalis dan interior khas Jepang yang elegan. Kafe ini merupakan cabang terbaru dari jaringan Ejji Coffee Corner yang telah berkembang pesat sejak 2019.
Saat berada di depannya, Anda akan menemukan bangunan rumah bergaya minimalis dan suasana yang terlihat tenang tanpa aktivitas berarti. Saat membuka pintu masuk, aroma kopi langsung menyapa di ruangan dihiasi interior bertema Jepang. Di setiap sudut, ada orang-orang yang sedang duduk melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang mengerjakan tugas, ada pula yang berbincang-bincang pelan sambil terlihat menertawakan hal remeh.
Berawal dari Tempat Ngopi di Pojokan
Perjalanan Ejji dimulai pada 28 Agustus 2019 di sebuah pojok kecil kawasan Darmo Permai, Surabaya Barat. Pemiliknya, Surya Lesmana, membuka lokasi pertama di ujung jalan, sesuai dengan makna nama Ejji yang diambil dari bahasa Jepang. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti ‘pojok’.
Menariknya, Ejji House bukan tipe kafe yang langsung muncul di pusat kota dengan gebrakan besar. Anastasia (27), asisten dari pendiri Ejji menerangkan bahwa jaringan mereka justru tumbuh pelan-pelan. Dari satu pojok kecil di Surabaya, lalu pelan tapi pasti merambat ke berbagai kota lain, hingga sampai juga ke Malang.
“Kalau Ejji Corner, di Surabaya. yang memang awal CEO-nya itu. Itu di Darmo Permai, di Surabaya Barat. Itu kecil banget, kak. Indoor-nya aja mungkin ya segini (menunjuk area berukuran sekitar 4 meter x 3 meter),” kata Anastasia (27) dari manajemen jaringan Ejji kepada Blok-a.com, Sabtu (13/9/2025).
Saat baru buka, tak lama kemudian pandemi datang. Meski bersusah payah, mereka masih beruntung bisa survive, bahkan sampai membuka cabang baru.
“Jadi bener-bener yang jaga itu baristanya yang satu. Jadi bener-bener kayak, ya steril pake kru, pake semuanya,” cerita perempuan asal Surabaya ini.
Tapi, justru karena tetap buka saat kebanyakan spot nongkrong tutup, masyarakat jadi orang jadi mengenal Ejji.
“Orang-orang ini kan, karena nggak boleh kemana-mana kan. Nah itu otomatis (cari tempat yang dekat), dan sedangkan memang kita bukanya tuh nggak yang selalu di jalan tengah. Walaupun di Surabaya pun kita juga nggak ada, belum buka di tengah. Jadi masih kayak ada di perumahan mana, orang-orang tuh tetap datang malahan. Justru waktu covid. Jadi mereka tetap datang, mereka tetap beli, dan kita tetap menjaga kayak berapa, cuma dibatasin berapa kayak gitu,” kenangnya.
“Nah mungkin dari situ sih orang jadi ya, jadi tau, jadi kenal. Karena walaupun, mungkin yang lain tutup terus kita tetap buka gitu ya. Jadi orang, oh tau buka. Terus setelah itu sih malah semakin banyak,” sambungnya.
Punya 30 Cabang di Seluruh Indonesia
Lima tahun berselang, Ejji kini telah berkembang menjadi jaringan kafe yang memiliki 30 district dan terus bertambah, tersebar di Jakarta, Surabaya, Bali, hingga Sumatera. Bahkan, mereka punya target ambisius untuk membuka 100 cabang dalam waktu dekat.
Dalam mengembangkan jaringannya, selama ini Ejji menggunakan dua sistem ekspansi, yakni kemitraan dan franchise. Pada sistem kemitraan, semua aspek operasional dikelola langsung oleh tim pusat, mulai dari perekrutan karyawan hingga operasional harian. Investor hanya perlu menyediakan tempat dan modal, kemudian menerima bagi hasil.
“Kalau kemitraan tuh nanti maksudnya cabang. Kalau cabang itu kita emang handle semua dari pusat. Jadi kayak semua karyawan, training, dan lain-lain semuanya itu dari pusat. Sampai mengontrol. Jadi investor nanti tinggal terima jadi aja. Tinggal bagi hasil kalau cabang” terang Anastasia.
Sementara di sistem franchise, pemilik lebih leluasa untuk mengelola operasional sehari-hari, meski tetap dalam bimbingan tim Ejji.
“Untuk masalah gaji, tapi urusan franchise. Kalau franchise kayak gitu. Dan semua operasional juga, mereka harus beli bahan aja di kita. Untuk ininya, mereka boleh menambahkan misal menu lain atau ininya sesuai perjanjian sama CEO kita, sama ownernya,” jelas sarjana Akuntansi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) tersebut.
Ejji House Kota Malang
Ejji House Malang sendiri baru diperkenalkan pada Maret-April 2025 kemarin. Sementara pada saat yang hampir bersamaan, Ejji juga tengah bersiap membuka cabang di Sidoarjo dan Kediri.
Soft opening Ejji House Malang berlangsung 28 Maret kemarin, dilanjutkan dengan grand opening-nya di awal April.
Outlet yang berlokasi di Jalan Wuni No.8, Bareng, Kecamatan Klojen itu, buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB, dengan rancangan konsep yang berbeda dari Ejji Coffee Corner pada umumnya.
Interiornya diset lebih nyaman seperti rumah sendiri, meski bergaya elegan dan menonjolkan kesan premium. Banyak sudut cozy untuk duduk berlama-lama, baik sendirian, berpasangan, atau bersama rombongan kecil. Terdapat pula area indoor yang adem, serta halaman kecil untuk perokok yang ingin nongkrong kilat di luar.
“Karena kita konsepnya family friendly,” kata Anastasia.
Jika cabang-cabang sebelumnya fokus pada minuman dan snack ringan seperti croissant, Ejji House Malang hadir dengan menu yang lebih komprehensif. Tersedia mocktail, makanan berat, dan berbagai snack variatif yang memungkinkan pengunjung untuk berlama-lama.
“Biar kalau ada yang bawa anak-anak atau orang tua juga tetap bisa menikmati, dan di sini minumnya nggak cuma kopi atau soda doang.”
Konsep ini merupakan versi signature dari Ejji Coffee Corner yang lebih detail, baik dalam hal atmosfer yang diusung maupun sajian menunya.
“Jadi cuma yang di pick-up yang best-best aja. Ditambahin sama menu signature yang kayak mocktail-mocktail gitu. Lalu juga spesialnya di sini ada makanan sama snack kayak gitu. Karena kalau di AG Coffee Corner, kita memang jual minuman aja,” sambungnya.
Aktivasi Event dan Sosial
Selain konsistensi dalam penyajian produk, Ejji juga aktif melakukan kolaborasi kreatif. Setiap tahun, manajemen berusaha menghadirkan minimal satu kolaborasi dengan tokoh atau brand terkenal.
Pada tahun-tahun sebelumnya, Ejji pernah berkolaborasi dengan konten kreator keluarga Ardo Sebastian, pengusaha Melvin Tenggara, penyanyi Misellia, hingga food stylist Inijie. Setiap kolaborasi menghadirkan menu khusus yang hanya tersedia selama periode event.
Salah satu kolaborasi yang paling berkesan adalah dengan Inijie, di mana Ejji menciptakan menu dengan micin dan memberikan nama “Ejjinomoto”. Menu unik ini bahkan mendapat apresiasi langsung dari brand Ajinomoto.
Tidak hanya fokus pada bisnis, Ejji juga menunjukkan kepedulian sosial. Pada ulang tahun ke-6, mereka meluncurkan program “membiayai hidup 6 anak” melalui program Pandeka Jaya. Target ke depan, di tahun ke-7, mereka berencana memperluas program ini hingga membantu biaya kuliah barista-barista muda yang bekerja di cabang-cabang Ejji. (mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)










Balas