Surabaya, blok-a.com – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Toni Harmanto mengatakan, rasio antara kasus kejahatan dengan penyidik yakni 1 penyidik menangani 16 perkara.
Hal itu merujuk data Polda Jatim bahwa angka kejahatan 2022 baik di Polda maupun Polres di Jatim terdapat 59.918 kasus. Sementara, total jumlah penyidik di jajaran Polda di Jatim berjumlah 3.702 personel.
“Ketidakseimbangan antara jumlah penyidik dengan perkara yang ditangani ini maka kami mencarikan solusi dengan menggagas kembali revitalisasi ombah rembug dan siskamling. Tentunya diharapkan ini bisa dimanfaatkan di setiap lini desa,” katanya.
Menurutnya, dengan adanya omah rembug di tiap desa ini maka ada perkara atau kasus yang bisa dimediasi dan diselesaikan di tingkat desa.
Hal ini kata Kapolda menyusul banyaknya laporan yang bisa diselesaikan melalui mediasi dan komunikasi yang baik antara para pihak.
“Tentunya keberadaan omah rembug dan siskamling ini akan menyederhanakan proses penyelesaian masalah yang timbul di masyarakat sehingga tidak sampai kepada proses keadilan. Dan ini akan menjadi solusi yang memberikan kemurahan dan kecepatan dalam proses penyelesaian mediasi yang dilakukan di tingkat desa, di tingkat masyarakat,” katanya.
Menurut Inspektur Jenderal Toni Harmanto, omah rembug dan siskamling memiliki peran multi kompleks dan multifungsi untuk menyelesaikan masalah dari lini paling bawah; kelurahan, dan desa.
Omah rembug dan siskamling sendiri juga wujud kearifan lokal. Dua media ini menjadi solusi memecahkan masalah di tingkat bawah dengan partisipasi aktif masyarakat.
Menanggapi itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sangat mengapresiasi dan mendukung.
“Omah rembug ini harus ditopang oleh orang yang punya kearifan dan netral. Dari situ akan terbangun kearifan lokal, pada akhirnya kearifan nasional atau national wisdom yang luar biasa,” ujar Khofifah.
Ini akan menjadi embrio bagaimana kearifan desa, kearifan kabupaten kota, kearifan provinsi akan menjadi kearifan nasional.
Khofifah pun menghadiri undangan sarapan bareng tiga pilar dan peresmian revitalisasi omah rembug dan siskamling di gedung Mahameru, Mapolda Jatim, kemarin.
Menurutnya, peran tiga pilar, bhabinkamtibmas, babinsa dan kepala desa/lurah sangat penting dalam mewujudkan kondusivitas di lini paling bawah.
Sekaligus berperan penting dalam membangun sinergi, kolaborasi, strong partnership dan gotong-royong di antara masyarakat.
“Di Jatim ada 666 kecamatan, 777 kelurahan dan 7.724 desa. Artinya ada kebutuhan 8.501 Babinsa dan 8.501 Bhabinkamtibmas supaya bisa bersama-sama menjadi pilar bagi mewujudkan keamanan dan ketertiban dari wilayah administrasi paling bawah, yaitu kelurahan dan desa,” katanya.
Lebih lanjut, Khofifah mengajak para kepala desa, bhabinkamtibmas dan babinsa untuk bisa menjadi pemimpin yang bisa menjadi bagian dari solusi. Yakni menjadi pemimpin nabler leader atau yang memungkinkan.
Artinya, pemimpin yang bisa melihat sesuatu menjadi peluang atau solusi dari suatu masalah. Serta pemimpin yang memungkinkan hal yang dianggap susah atau impossible menjadi hal yang memungkinkan atau possible.
Ia mencontohkan masalah sampah. Jika sampah bisa diolah dengan baik maka justru akan mendatangkan rupiah. Ditegaskannya, hukum dasarnya adalah possible. Maka berembug untuk mencari solusi bersama bisa menjadikan yang impossible menjadi possible.
Tidak hanya itu, lanjut Khofifah, dalam menghadapi era industri 4.0 dan 5.0, yang dibutuhkan adalah complex problem solving.
“Maka skill tertinggi dari 10 skill yang dibutuhkan adalah complex problem solving. Artinya para kepala desa, Lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas harus bisa menjadi problem solver. Inilah yang juga menjadi arahan Pak Presiden Jokowi kepada para kepala daerah dan Forkopimda pada tanggal 17 Januari lalu di Sentul. Jadilah problem solver, jangan trouble maker,” katanya.
Sebelumnya, Pangdam V / Brawijaya, Mayjen TNI Farid Makruf, menyambut baik program revitalisasi omah rembug dan siskamling ini. Menurutnya bila program ini berjalan dengan efektif, maka persoalan di tingkat bawah bisa terselesaikan di tingkat bawah.
“Namun, saya juga berharap program omah rembug dan siskamling ini bisa mencegah permasalahan. Caranya dengan rutin berkomunikasi dan berdiskusi dengan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, Pangdam mengatakan bahwa wilayah Jatim kerap terdampak bencana, rawan kelompok gangster, dan gesekan antar kelompok masyarakat.
Untuk itu, peran tiga pilar yakni bhabinkamtibmas, babinsa dan kepala desa di tingkat desa untuk mencegah permasalahan tersebut terjadi sangat dibutuhkan.
Acara Sarapan Bareng Tiga Pilar Desa/Kelurahan serta Revitalisasi Omah Rembug dan Siskamling ini diikuti Lurah, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa se-Jatim. Baik secara luring maupun daring.(kim/lio)










Balas
Lihat komentar