Kota Malang, Blok-a.com — Praktik seni media baru di Kota Malang mulai mendapat ruang melalui berbagai inisiatif pameran dan kolaborasi lintas disiplin yang melibatkan akademisi, komunitas, dan mahasiswa. Dalam perkembangan seni media baru di Malang, Adita Ayu Kusumasari hadir dari ruang akademik. Saat ini, ia dikenal sebagai dosen sekaligus Ketua Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bhinneka Nusantara (UBHINUS), Malang.
Keterlibatannya dalam pameran lintas disiplin INTERSECTION berangkat dari perannya sebagai dosen pembimbing tugas akhir mahasiswa. Sejumlah karya yang dipamerkan di INTERSECTION merupakan bagian dari proyek tugas akhir mahasiswa yang sejak awal diarahkan pada praktik new media art interaktif.
“Kalau saya di kampus memang membimbing anak-anak yang sedang TA. Kebetulan saya juga sedang studi S3 di ISI Bali, dan rencana disertasi saya juga tentang media art dan seni tradisi,” ujar Adita saat ditemui Blok-a.com, Sabtu (18/1/2026).
Di UBHINUS, mahasiswa DKV memiliki kebebasan menentukan topik tugas akhir. Sebagian datang dengan judul sendiri, sebagian lain mendapat tawaran dari dosen. Dalam konteks inilah Adita menawarkan topik yang sejalan dengan riset pribadinya, yakni pertemuan antara seni tradisi dan media art.
Judul-judul tersebut kemudian diambil mahasiswa dan dikembangkan menjadi proyek karya. Prosesnya berjalan seiring dengan riset Adita, hingga pada titik tertentu karya-karya tersebut menemukan ruang presentasi di luar kampus.
“Ini sebenarnya bagian dari riset saya juga. Anak-anak ambil judul, bikin proyek, lalu di tengah jalan ada kedekatan juga dengan teman-teman Story of Karana. Dari situ muncul ide untuk bikin pameran, akhirnya lahirlah INTERSECTION,” katanya.
Bagi Adita, pameran di luar kampus bukan hal baru bagi mahasiswa UBHINUS. Mahasiswa tugas akhir memang diwajibkan memamerkan karya mereka, baik di ruang kampus maupun ruang publik yang bekerja sama dengan pihak lain. INTERSECTION menjadi salah satu ruang tersebut, sekaligus menandai pameran perdana dengan format dan pendekatan baru.
Sebelumnya, Adita juga terlibat dalam pameran media art Void/Vision di Latar Ijen, Malang yang juga di inisiasi oleh Swarnaloka. Dari pengalaman tersebut, ia melihat pentingnya ruang yang secara serius memfasilitasi praktik seni media baru, khususnya yang melibatkan dunia akademik.
“Void Vision kemarin itu serius banget sebagai pameran media art. Nah, di INTERSECTION ini juga serius, karena ada kurator, ada pendampingan, meskipun yang terlibat juga teman-teman sendiri. Menurut saya ini penting,” ujarnya.
Di kampus, Adita tergabung dalam klaster riset media interaktif. Ketertarikannya pada media art berkembang seiring proses riset yang ia jalani. Dunia desain yang sebelumnya lebih statis dan konvensional mulai ia tinggalkan perlahan.
“Kalau desain konvensional itu lama-lama jenuh. Media art ini menantang, secara teknis juga susah. Tapi justru proses berkaryanya itu menarik,” tuturnya.

Menurut Adita, seni media baru menawarkan pengalaman berbeda bagi audiens, terutama generasi muda. Ia mencontohkan bagaimana seni tradisi, seperti topeng Malangan, dapat memberi pengalaman baru ketika dikemas dalam bentuk media art interaktif.
“Ketika nonton topeng secara konvensional dan ketika dalam bentuk media art, pengalamannya beda. Untuk anak-anak muda, ini jadi lebih menarik,” katanya.
Ia juga menilai saat ini menjadi momentum yang tepat bagi seni tradisi untuk berdampingan dengan media baru. Minat generasi muda terhadap seni budaya mulai tumbuh, dan media art bisa menjadi jembatan yang relevan.
“Kontennya bisa seni tradisi, tapi kemasannya media baru. Jadi lebih segar,” ucapnya.
Soal pemilihan ruang pamer, Adita melihat tidak ada dikotomi kaku antara galeri dan ruang alternatif seperti kafe. Baginya, INTERSECTION justru tepat digelar di ruang yang dekat dengan keseharian anak muda.
“Kalau di galeri eksklusif bisa saja. Tapi untuk sekarang, justru tempat seperti ini lebih kena ke anak muda yang nongkrong,” ujarnya.
Sebagai akademisi yang masuk ke ruang publik dan komunitas kreatif, Adita melihat perannya sebagai penghubung antara kampus dan praktik profesional. Ia menyerap pengalaman teknis dari praktisi, lalu membawanya kembali ke ruang kelas.
“Pengalaman mereka di lapangan itu bisa saya sinkronkan ke mata kuliah. Biar nggak ada jarak jauh antara akademisi dan praktisi,” katanya.
Adita bercerita bahwa dinamika tren yang bergerak cepat menuntut dosen untuk terus belajar. Ia pun mengakui sering mengikuti perkembangan justru melalui mahasiswa.
“Sering banget. Kalau dosen jaga jarak, makin ketinggalan. Justru mahasiswa yang ngenalin saya ke banyak hal baru,” ujarnya.
Menurut Adita, ruang seperti INTERSECTION memiliki peran penting dalam ekosistem kreatif Malang, khususnya bagi seni media baru yang masih relatif baru diterima publik. Pameran ini menjadi jembatan bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia profesional.
“Ini jembatan dari dunia akademik ke publik. Anak-anak dapat pengalaman pameran, ketemu audiens, dan melihat langsung respon orang,” katanya.
Ia berharap praktik seperti ini bisa terus berkembang dan memberi dampak bagi perkembangan seni media baru di Malang, sekaligus membuka cara pandang baru terhadap seni tradisi yang dikemas secara kontemporer. (ber/gni)




