Kisah Suster di Malang Kadang Merasa Bosan dan Mempertanyakan Keberadaan Tuhan, Tapi Satu Hal Ini yang Teguhkan Kepercayaannya

Foto Suster Sebastia di masa kini setelah resmi diangkat menjadi suster (foto : Dok. pribadi)

Kota Malang, Blok-a.com – Jalan hidup manusia memang tidak ada yang tahu. Sama seperti sosok Suster Sebastiana Unitly, ALMA ini. Ya, menjadi seorang suster di usia yang sangat belia. Meski di tengah jalan hampir menyerah, namun dia masih membaktikan diri sebagai suster hingga saat ini. Bahkan, Suster itu kini tengah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Merdeka Malang.

Wanita kelahiran Rumadian, 30 Juli 1994 ini merupakan anak ketiga dari empat bersaudari. Rumadian adalah salah satu desa di Kepulauan Kei, Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku.

Awalnya, Suster Sebastia penasaran rasanya menggunakan jubah. Bisa dibilang, keinginannya untuk menjadi seorang suster adalah keisengan saja. Kala itu, dia masih menempuh pendidikan di SMK Bhakti Luhur Kota Malang.

“Tidak ada yang berkesan di awal perjalanan ini selain ingin memecahkan rasa penasaran saya terhadap jubah. Rasa penasaran itu membuat saya nekat menjadi calon di usia 14 tahun atau disebut dengan istilah ASPIRAN. Meski masih aspiran saat itu saya sudah memakai kerudung polos dan busana calon,” ungkap dia.

Dia mengaku, perjalanan tidak semulus itu. Sempat mengalami keraguan karena merasa telah terjebak dengan jubah tersebut. Sehingga saat itu dirinya mengaku hanya menjalani aktivitas sehari-hari tanpa perasaan apa-apa.

“Dengan demikian saya menjalani saja tanpa ada perasaan apa-apa. Hingga pada suatu titik saya dipertemukan dengan seorang bayi berusia 2 tahun. Saya diberi kesempatan oleh Bapak Pendiri kami, Rm. Paulus Hendrikus Janssen, CM untuk merawat anak itu. Saya awalnya menolak karena tidak ada pengalaman mengurus bayi. Akan tetapi karena ketaatan saya terhadap tugas perutusan, saya menerima dengan terpaksa dan menjalaninya,” ungkap dia.

Benar saja, ketika Suster Sebastia mengurus bayi itu tak henti menangis. Menurut dia, pastilah karena merasa telah ditolak lagi. Sehingga karena kebingungan mengurus bayi tersebut, dia lekas menaruhnya di meja doa.

“Saya meletakkannya di meja doa saya, posisi anak itu dalam gendongan saya. Lalu membayangkan Yesus dipersembahkan di Kenisah. Saya berdoa: “Tuhan, Engkau yang tahu jalan hidup saya. Saya tidak punya apa-apa, saya tidak tahu bagaimana mengurus anak ini. Saya pasrah. Tolong saya sebab saya tidak bisa apa-apa.” Ketika berdoa air mata saya jatuh dan menyatu dengan air mata anak itu yang sedang menangis dalam dekapan saya,” bebernya terharu.

Tiba-tiba, lanjut dia, tanpa diketahui Suster Sebastia yang kini tinggal di Malang itu langsung jatuh cinta pada bayi itu. Dia juga perlahan menerima posisinya sebagai seorang suster. DIa menyadari bahwa betapa Tuhan mencintainya untuk berjumpa dengan anak-anak. Baginya, anak-anak adalah Guru Kehidupan dan Guru Cinta.

Meski telah menjadi seorang suster, namun bukan berarti jauh dari rasa jenuh dan capek. Sebagai manusia biasa, dia juga bisa merasakan bosan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Namun, Suster Sebastia mengingat sebuah kisah yang menguatkannya.

“Tetapi 1 hal yang saya percaya, ketika Tuhan memberikan tantangan, Ia juga memberikan kekuatan. Saya percaya juga bahwa pengalaman baik suka maupun duka yg telah terjadi maupun yang akan terjadi di depan, saya yakin Tuhan selalu beserta seperti Allah yang menyertai umat Israel masuk ke tanah terjanji setelah dijadikan budak di Babel, demikian Tuhan akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya seperti yang telah tertulis dalam kitab Pengkhotbah 3:11,” bebernya.

Kini, Suster Sebastia dengan bahagia menjalani pilihan hidupnya. Bahkan, Suster Sebastia tengah menempuh pendidikan di Universitas Merdeka Malang. Untuk membagi waktunya, dia selalu membuat rencana dalam jurnal hariannya. Dia selalu mencatatnya ketika malam hari lalu memberikan tanda centang untuk agenda yang sudah dilakukan. Dia juga konsisten membaca buku 1 jam dalam sehari. Hal itu membantunya untuk terus berkembang.

“Salah satu rutinitas yang coba saya bangun sekarang ialah membaca buku sehari 1 jam di pojok baca yang ada di dalam kamar suster. Saya yakin dengan membaca dapat membantu untuk menambah wawasan dan juga mengolah emosi, sesuai genre buku yang dibaca saat ini ada Filosofi Teras hingga Sapiens karya Yuval Noah,” pungkasnya. (mg2/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com