Blok-a.com – Setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan dengan puasa Syawal selama enam hari. Puasa ini memiliki banyak keutamaan, salah satunya disamakan dengan pahala berpuasa selama satu tahun penuh.
Anjuran tersebut sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun”.
Puasa Syawal dapat dilakukan mulai tanggal 2 hingga 7 Syawal, karena pada 1 Syawal atau Hari Raya Idulfitri, umat Islam diharamkan berpuasa. Namun, waktu pelaksanaan puasa ini tidak terbatas pada enam hari pertama Syawal.
Umat Islam diperbolehkan menjalankan puasa Syawal kapan saja dalam bulan tersebut, asalkan tetap berjumlah enam hari.
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah, Imam Ahmad berpendapat bahwa puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan maupun tidak.
Mazhab Syafi’i dan Hanafi juga menyatakan bahwa menjalankan puasa Syawal secara tidak berurutan lebih utama.
Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026, sehingga puasa Syawal bisa dimulai dari 22 Maret 2026 atau di tanggal lainnya dalam bulan Syawal.
Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal
Hukum puasa Syawal adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW:
“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (HR. Muslim)
Dikutip dari NU Online, puasa Syawal memiliki lima keutamaan. Ini merujuk pada penjelasan dari Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya terkait amalan sepanjang tahun, yaitu Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif.
1. Penyempurna Ibadah Ramadan
Sebagaimana salat sunnah rawatib yang menyempurnakan salat fardu, puasa Syawal berfungsi untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi pada ibadah puasa wajib di bulan Ramadan.
2. Mendapat Pahala Setara Puasa Setahun Penuh
Seseorang yang berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh.
3. Tanda Diterimanya Puasa Ramadan
Salah satu ciri diterimanya amal ibadah oleh Allah SWT adalah munculnya keinginan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Melaksanakan puasa Syawal menjadi indikasi bahwa puasa Ramadan seseorang membuahkan hasil positif.
4. Bentuk Syukur kepada Allah SWT
Puasa Syawal merupakan wujud rasa syukur seorang hamba atas limpahan anugerah dan ampunan yang telah diberikan Allah SWT selama bulan Ramadan.
5. Menjaga Konsistensi (Istiqamah) Ibadah
Dengan berpuasa di bulan Syawal, seorang muslim menunjukkan bahwa semangat beribadahnya tidak berhenti begitu Ramadan usai, melainkan terus berlanjut dan terjaga konsistensinya.
Niat Puasa Syawal
Seperti ibadah lainnya, puasa Syawal harus diawali dengan niat. Berbeda dengan puasa Ramadan yang niatnya harus diucapkan sebelum fajar, niat puasa Syawal bisa dilafalkan di pagi hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
Berikut tiga lafal niat puasa Syawal sesuai dengan kondisinya:
1. Niat bagi yang berpuasa sejak malam hari dan berurutan selama enam hari:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adai sittatin min Syawwal lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan puasa sunnah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”
2. Niat bagi yang berpuasa sejak malam hari tetapi tidak berurutan:
Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnatis Syawwal lillaahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
3. Niat bagi yang baru berniat puasa saat siang hari, asalkan belum makan dan minum:
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an adaa’i sunnatis Syawwal lillaahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Menggabungkan Puasa Syawal dengan Qadha Ramadan
Dilansir Kompas.com, mantan Mufti Mesir Dr. Ali Gomaa Muhammad menjelaskan bahwa para ulama fikih memperbolehkan menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa Syawal. Namun, niat utama tetap harus ditujukan untuk mengganti puasa wajib Ramadan.
Pendapat ini didukung oleh Imam As-Suyuthi dalam al-Asybah wa an-Nadhair, yang menyatakan bahwa seseorang dapat mengganti puasa Ramadan sambil menggabungkannya dengan niat puasa sunnah. Namun, pahala yang diperoleh hanya sebatas kesunahan puasa Syawal, bukan keutamaan sempurnanya.
Hal ini juga ditegaskan oleh Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj, yang menyebutkan bahwa meskipun seseorang mendapatkan pahala kedua puasa, ia tidak memperoleh keutamaan penuh dari puasa Syawal yang dilakukan setelah Ramadan secara terpisah.(lio/ova)









