Blok-a.com – Web developer mendorong founder untuk membangun website profesional lebih dulu, sebelum sibuk mengejar putaran dana. Alasannya, sebelum investor membalas email untuk jadwal rapat, mereka biasanya sudah lebih dulu mengetik nama startup di Google dan membuka websitenya.
Pola ini makin terlihat di ekosistem startup dan pemasok korporat Indonesia. Pitch deck memang masih dipakai saat presentasi langsung. Tapi jika website startup masih memakai template gratisan dengan foto stok generik. Atau bagian “Tentang Kami” cuma berisi satu paragraf tanpa nama tim, investor cenderung menunda balasan. Mereka ingin bisa mengecek sendiri, “Apakah perusahaan ini benar-benar jalan, atau baru sebatas ide di slide?”
Dalam situasi seperti ini, pengusaha bisa memakai jasa pembuatan web seperti CodeF, web developer asal Indonesia yang sudah menerima klien freelance sejak 2009. Jasa semacam ini biasa dipilih tim kecil dengan bujet terbatas. Misalnya startup yang baru lolos seed round dan belum sanggup membayar agency besar dengan tarif puluhan juta rupiah per proyek.
Sebelum deal, CodeF menyarankan agar calon klien melihat halaman website dan profilnya langsung. Misalnya dengan melihat porfofolio pekerjaan dan menghubungi klien sebelumnya kalau perlu. Tujuannya agar tidak terjadi kasus umum. Di mana, pada brief awal klien meminta landing page sederhana, tetapi hasil akhirnya beda arah karena developer tidak paham model bisnis kliennya.
Dari pengalaman di lapangan, investor jarang mundur cuma karena warna tombol kurang matching atau font terasa jadul. Mereka justru ragu jika, misalnya, halaman “Produk” cuma menampilkan screenshot aplikasi tanpa penjelasan masalah yang diselesaikan, atau halaman “Tim” hanya berisi foto tanpa nama dan jabatan jelas. Website di sini fungsinya seperti KTP digital startup, bukan semacam brosur yang penuh aksen.
Sementara founder sibuk mempercantik slide presentasi, situs yang setengah jadi justru bisa jadi bumerang. Contohnya tombol “Hubungi Kami” yang saat diklik cuma memunculkan halaman 404. Atau alamat email yang formatnya masih memakai Gmail pribadi (bukan email domain perusahaan). Investor yang menemukan detail seperti ini bisa langsung berpikir, “Kalau hal sekecil ini saja tidak diurus, bagaimana dengan operasional yang lebih besar?”
Tekanan Screening Digital Sebelum Rapat Pendanaan
Angel investor dan VC lokal sekarang lebih ketat menyaring calon startup di tahap awal. Sebelum membalas pitch, mereka biasanya membuka website startup dan mengecek tiga hal dasar. Seperti apa produk yang dijual, siapa saja orang di balik perusahaan, dan adakah nomor atau email resmi yang bisa dihubungi. Bukan cuma kolom “DM kami di Instagram”.
Setelah itu, mereka mencari bukti traction yang jujur. Misalnya, alih-alih menulis “kami mendominasi pasar F&B Indonesia”, startup yang lebih dipercaya biasanya menulis hal spesifik. Contohnya, “sudah digunakan 12 resto di Jakarta selama masa pilot 3 bulan”, meski angkanya kecil. Kejujuran soal skala yang masih kecil ini justru lebih dipercaya dibanding klaim besar tanpa angka.
Beberapa hal yang biasanya diperiksa investor lewat website:
- Halaman layanan menjelaskan masalah pelanggan secara spesifik (bukan cuma “solusi inovatif untuk bisnis Anda”) dan bagaimana produk menjawabnya.
- Struktur tim menampilkan nama, jabatan, dan latar belakang singkat tiap orang — bukan cuma foto founder dengan caption “passionate team”.
- Email dan nomor telepon yang tertulis di website sama persis dengan yang ada di pitch deck, tidak beda-beda di tiap dokumen.
Meski begitu, website bukan pengganti term sheet. Keputusan investasi tetap ditentukan lewat angka keuangan, legalitas, dan wawancara langsung dengan tim. Peran website di sini lebih sempit: sekadar lolos dari fase “coret dari daftar” sebelum masuk tahap due diligence yang lebih serius.
Urutan Kerja yang Web Developer Utamakan
Dari sisi pengerjaan, developer biasanya tidak mengutamakan animasi scroll yang berat atau efek parallax yang keren. Yang lebih penting: halaman terbuka dalam hitungan detik (bukan loading lama karena gambar terlalu besar), formulir kontak benar-benar mengirim email saat dicoba, dan tautan menuju one-pager PDF atau pitch deck tidak error saat diklik. Hal-hal teknis ini terlihat remeh, tapi kalau bermasalah, kesannya sama seperti salah ketik di email formal, kecil tapi mengganggu kepercayaan.
Desain yang terlalu mewah tapi minim isi justru bisa merugikan. Contohnya startup yang websitenya penuh video hero section 4K dan animasi 3D. Begitu di-scroll ke bawah, tidak ada penjelasan jelas soal harga, cara kerja produk, atau siapa pelanggan pertamanya. Kesannya jadi terburu-buru, sibuk mempercantik tampilan tanpa memperhatikan isinya. Kejelasan lebih penting dibanding kemewahan, terutama di tahap seed.
Kebutuhan konten juga beda-beda tergantung industri. Startup SaaS B2B biasanya perlu halaman berisi demo singkat atau akun uji coba gratis yang bisa langsung dicoba investor. Sementara pemain manufaktur kecil lebih butuh galeri foto produk asli dari pabrik dan daftar sertifikasi (misalnya SNI atau ISO) yang bisa dicek. Karena kebutuhan ini berbeda, template website generik yang dijual paket murah biasanya kurang cukup untuk lolos screening awal investor.
Menggunakan jasa freelance seperti CodeF punya kelebihan tersendiri. Prosesnya lebih fleksibel dan biayanya jauh lebih terkendali dibanding agency besar. Kekurangannya, kalau lagi banyak klien, antrean pengerjaan bisa molor dari perkiraan awal. Karena itu, founder perlu menyepakati dari awal apa saja yang dikerjakan dan kapan tenggat waktunya, biar tidak ada kesalahpahaman soal ekspektasi di tengah proyek.
Titik Lemah Situs yang Membuat Investor Menunda
Titik lemah pertama yang sering ditemukan adalah jargon kosong tanpa bukti, misalnya tulisan “platform disruptif berbasis AI”, padahal belum ada studi kasus nyata yang bisa ditunjukkan. Lalu yang kedua, informasi legalitas yang tidak lengkap, seperti tidak mencantumkan nama PT resmi atau alamat kantor operasional. Sedangkan titik lemah ketiga, seperti nomor telepon atau email yang sudah tidak aktif lagi tapi masih terpampang di footer, misalnya email mantan karyawan yang sudah resign setahun lalu.
Karena proses pengecekan digital sekarang bisa dilakukan dalam hitungan menit, satu kesalahan kecil seperti ini bisa merusak kepercayaan investor lebih cepat dibanding presentasi yang kurang mulus. Karena itu, urutan prioritasnya: benerin dulu hal-hal krusial ini, baru pikirkan tambahan seperti blog perusahaan atau press kit kalau anggaran masih ada sisa.
Website yang rapi tetap tidak menjamin startup akan dapat pendanaan. Bisa saja kondisi pasar sedang lesu, atau model bisnisnya memang belum menguntungkan. Peran website tetap terbatas pada satu hal, yakni memastikan investor tidak langsung menutup tab website sebelum sempat membaca lebih jauh soal produknya. (ova)




