Kisah Supriatna Raup Untung Ratusan Juta dengan Modal Ban Bekas

Supriatna sedang melakukan pengecatan replika bunga untuk dikirim di wilayah Solo Jawa Tengah (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)
Supriatna sedang melakukan pengecatan replika bunga untuk dikirim di wilayah Solo Jawa Tengah (Blok-a.com / Putu Ayu Pratama S)

Bahkan, kata Nana, ia memiliki tumpukan replika burung hasil eksperimen. Perlu evaluasi dari hasil sebelum-sebelumnya untuk memperoleh hasil agar sesuai dengan replika burung yang diharapkan.

“Setelah banyak percobaan, ternyata bisa berbentuk burung. Menarik juga, tapi harus banyak catatan yang saya evaluasi, mulai dari paruh, kaki, sayapnya,” bebernya.

Bahkan perlu waktu yang cukup panjang, yakni kurang lebih satu tahun untuk mendapatkan karya burung yang cukup sempurna.

Tak hanya itu. Ketika memperoleh karya yang sempurna. Ia kembali dihadapkan dengan problem lain.

Dengan membuat karya burung berukuran kecil, maka tumpukan sampah ban bekas tidak cepat berkurang.

Ia kembali memutar otak. Bagaimana caranya bisa mengurangi lebih banyak sampah ban bekas dengan karya lain? Dengan mencoba replika hewan berukuran lebih besar, tentunya akan mengurangi lebih banyak sampah, menurutnya.

“Mulailah saya membuat karya yang besar, biar tumpukan ban cepat habis. Saya bikin dinosaurus yang ukurannya besar, akhirnya berkurang cukup banyak,” katanya.

Kembali pada tujuan awal, Nana ingin mengolah tumpukan sampah menjadi barang bernilai jual. Untuk itu, ia mulai memunggah hasil karyanya di media sosial.

Tak berselang lama, banyak tawaran yang memenuhi berandanya kala itu.

Raup Untung Ratusan Juta

Tentu ada rasa bangga pada dirinya. Setelah sekian lama mencoba membuat karya dari bahan bekas, akhirnya membuahkan hasil.

“Awalnya saya coba jual Rp75 ribu, kok banyak yang beli. Akhirnya saya kerja terus buat replika ban. Terus sampai saat ini saya punya formula yang pas,” bebernya.

Exit mobile version