Kisah Perjalanan Desainer Grafis asal Kota Malang, Karyanya Tembus Pasar Amerika

Gibran Dirgantara Leander, Desainer Grafis asal Kota Malang yang karyanya laku hingga ke Amerika. (blok-a.com/ Muhammad Berril Labiq)
Gibran Dirgantara Leander, Desainer Grafis asal Kota Malang yang karyanya laku hingga ke Amerika. (blok-a.com/ Muhammad Berril Labiq)

Kota Malang, blok-a.com – Gibran Dirgantara Leander (20), seorang desainer grafis asal Kota Malang, telah menunjukkan bahwa kreativitas bisa menembus berbagai batasan, termasuk batasan teknologi. Bermula dari ponsel, kini karyanya diminati warga luar negeri, Amerika.

Dalam dunia di mana laptop dan komputer adalah standar, Gibran sapaan akrabnya memulai berkarya hanya dengan smartphone Android.

Ia mulai berkarya dengan keterbatasan itu. Ia berlatih terus menerus dengan kelemotan dan keterbatasan aplikasi di ponselnya pada tahun 2019.

“Dulu itu sebenarnya saya itu terjun dalam dunia desain itu ketika waktu SMP. Dan software yang tak pakai namanya PicsArt,” cerita Gibran ketika ditemui blok-a.com Sabtu (18/1/2025).

Seiring berjalannya waktu, Gibran menyadari bahwa untuk mengembangkan karyanya lebih lanjut , ia memerlukan alat yang lebih mumpuni. Namun, dia tidak punya modal yang cukup.

Akhirnya, dia bekerja serabutan sebagai desainer clothingan di kampungnya, di Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen Kota Malang.

Bayaran tersebut ia tabung hingga membeli sebuah computer yang mempuni untuk desain.

Gibran Dirgantara Leander, Desainer Grafis asal Kota Malang yang karyanya laku hingga ke Amerika. (blok-a.com/ Muhammad Berril Labiq)
Gibran Dirgantara Leander, Desainer Grafis asal Kota Malang yang karyanya laku hingga ke Amerika. (blok-a.com/ Muhammad Berril Labiq)

“Ya dulu itu awalnya saya terjun pakai hp kan, nah terus saya mikir kayak kurang gitu loh detail resolusinya. Akhirnya saya beli PC dan mulai menyeriusi dengan software Photoshop,” ujar Gibran, menyoroti pentingnya evolusi dalam peralatan desain.

Pada mulanya, meskipun computer sudah terbeli dan specs-nya sudah memenuhi untuk membikin desain secara profesional pesanan belum ada. Akhirnya mahasiswa semester 3 Universitas Brawijaya (UB) memutuskan untuk membuat portofolio sendiri.

Dia mendesain beragam art work dan diunggah di platform seperti Pinterest hingga Instagram. Art work yang diunggahnya berupa gambar vintage hingga typografi.

Tak dinyana, art work yang telah diunggahnya itu dilihat oleh orang luar negeri. Hingga akhirnya ada yang tertarik untuk membeli jasa Gibran.

“Selama saya ngerjain desain, saya gatau pasarnya dimana. Akhirnya saya iseng upload aja ke Pinterest dan Instagram, dan menggunakan fitur hashtag untuk jangkauan lebih luas. Intinya konsisten upload aja,” ungkapnya.

Pesanan pertamanya, kata pria berumur 20 tahun itu, sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang ia unggah. Pemesan dari luar negeri itu meminta desain 3D art.

Gibran pun menerima kesempatan itu meskipun ini bukan art work.

Dia bersungguh-sungguh membuat 3D art itu. Dia juga memanfaatkan orderan pertamanya itu untuk promosi. Si pemesan dari Amerika itu ia minta untuk mempromosikan hasil karyanya ke teman-temannya.

“Saya ga ngeduga sih karena orderan pertama malah logo dan 3D art. Dan saya minta feedback ke mereka untuk mempromosikan brand desainku, nah disitulah mulai berkembang,” tuturnya.

Ide Gibran ini cemerlang. Buktinya, setelah meminta pemesan itu untuk mempromosikan dari mulut ke mulut temannya, pesanan hadir silih berganti.

Bahkan, pemesan kini memesan art work seperti desain yang Gibran kuasai. Mereka memesan melalui DM akun Instagram milik Gibran, @metanoiasuck. Kebanyakan yang memesan itu adalah pemuda Amerika yang mempunyai clothing brand lokal.
Satu pesanan biasanya dikerjakan dalam satu malam. Dia bekerjanya pun saat malam hari karena menyesuaikan dengan jam klien di Amerika.

“Ya saya biasanya kayak lowo (Kelelawar). Bangun malam hari, siangnya tidur. Karena kerjaan itu menyesuaikan klien yang di Amerika,” tuturnya.

Salah satu karya Gibran yang diminati di Pasar Amerika (blok-a.com / Muhammad Berril Labiq)
Salah satu karya Gibran yang diminati di Pasar Amerika (blok-a.com / Muhammad Berril Labiq)

Satu desainnya dihargai hingga sekitar US$70 Bahkan, Ia mengaku pernah dalam sebulan ia bisa mendapatkan US$700, jika orderan lagi banyak-banyaknya. Jika dikonversikan ke rupiah, Gibran per bulannya bisa mendapat puluhan juta.

“Kalau komisi saya mulai di angka US$70dan bisa lebih karena tergantung seberapa sulitnya. Dan saya juga pernah satu desain kena US$200, tapi kalau emang lagi lancar bisa sampai US$700-an,” katanya.

Art desainnya itu mendapat pasar di Amerika karena kualitas dan gaya art work yang disukai warga Amerika. 

“Saya juga memberikan peluang ke mereka untuk revisi berkali-kali sampai mereka puas dengan desain saya. Intinya saya selalu mendengar feedback mereka,” tuturnya.

Kini, mahasiswa UB itu setidaknya mampu meringankan beban keluarganya. Biaya kuliah dia bayar sendiri tanpa meminta ke orang tua. Bahkan komisi yang banyak, ia investasikan lagi dengan device-device yang mempuni.

Meski berhasil di luar negeri, Gibran jarang mengambil pesanan dalam negeri. Dia menyoroti tantangan di pasar dalam negeri. Di Indonesia, khususnya Kota Malang jasa desain grafis masih belum dihargai, dan style desainnya juga belum menyesuaikan dengan pasar luar negeri.

“Pasarnya di Indonesia ini belum ada. Karena kalau di Indonesia sedikit kolot karna yg dimasalahkan harga juga. Selain itu saya rasa style desainnya juga telat ngikutin pasar di luar negeri,” ujarnya.

Namun, pria kalem ini berharap bahwa dengan semakin banyak desainer yang terbukti sukses di luar negeri, pasar lokal akan mulai mengikuti perkembangan dari desain grafis.

“Intinya kalo pengen nembus pasar luar negeri konsisten upload aja sih, pasti suatu saat akan ada orderan. Satu lagi, sering-sering mengikuti desain yang lagi trend di amerika, research di platform seperti instagram, pinterest, tiktok ngamati style luar kan dunia fashion di luar lebih trendy,” tutupnya. (ber/bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com