Buku Mulai Rp10 Ribu, Toko Buku Bekas di Malang Ini Simpan Harta Karun Kolektor

Buku Mulai Rp10 Ribu, Toko Buku Bekas di Malang Ini Simpan Harta Karun Kolektor
Pemilik Toko Buku Kanaka, Onil dan koleksi buku Kanaka Buku di Sawoajajar, Kota Malang (blok-a/Bob Bimantara Leander)

Kota Malang, blok-a.com – Sebuah rumah di Jalan Tondano Dalam, Kelurahan Sawojajar, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, disulap menjadi surga bagi para pencinta buku bekas. Di balik bangunan yang dulunya merupakan bengkel itu, ribuan buku preloved tersusun rapat di rak-rak hingga membentuk lorong-lorong sempit yang menjadi tempat berburu bacaan murah sekaligus koleksi langka.

Rumah tersebut kini dikenal sebagai Kanaka Buku. Toko buku bekas itu dikelola oleh Onella Martha Ganessa atau yang akrab disapa Onil. Rumah kosong milik tantenya dimanfaatkan sebagai tempat usaha setelah sebelumnya tidak lagi digunakan.

“Daripada tidak digunakan, lebih baik dikaryakan agar rumahnya ada kegiatan dan memberi penghasilan. Ya motif ekonomi saja sebetulnya,” ujar Onil.

Ide mendirikan Kanaka Buku berawal dari kegemarannya membaca. Namun, koleksi buku pribadinya kerap dipinjam teman dan tidak pernah kembali. Pengalaman itu kemudian memunculkan gagasan untuk mulai memonetisasi koleksi bukunya hingga akhirnya membuka usaha jual beli buku bekas.

Usaha tersebut mulai berkembang setelah pandemi Covid-19 pada 2022. Sebelumnya, Onil telah lebih dulu berjualan buku di kawasan Pasar Buku Wilis. Setelah pasar daringnya berkembang dan mampu melayani pengiriman ke berbagai daerah di luar Jawa, seperti Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), ia kemudian membuka toko fisik di rumah tersebut.

“Kita bangun pasar online-nya dulu sampai kuat dan bisa kirim ke luar Jawa seperti Sumatera hingga NTB, baru setelah itu toko offline di rumah ini resmi dibuka,” jelasnya.

Harga buku di Kanaka Buku cukup ramah di kantong, mulai Rp10 ribu. Koleksinya pun beragam, mulai novel, komik, buku resep, hingga buku pengembangan diri. Di sisi lain, toko ini juga menyimpan sejumlah buku langka yang menjadi incaran para kolektor.

Salah satunya adalah karya Pramoedya Ananta Toer cetakan 1950-an berjudul Sang Pendukung Kristus. Buku tersebut hingga kini masih disimpan dan tidak diperjualbelikan karena memiliki nilai sejarah yang tinggi. Nilainya ditaksir mencapai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp5 juta.

“Kalau ditaksir, harganya sekitar Rp3,5 juta sampai Rp5 juta. Tapi buku itu tidak saya jual karena memang sangat langka dan punya value tinggi,” ungkap Onil.

Menurut Onil, karakter pembeli buku di Kanaka Buku juga cukup beragam. Pada hari biasa, toko tersebut rata-rata dikunjungi dua hingga empat orang setiap hari. Pengunjung didominasi kalangan pekerja yang datang untuk membeli buku-buku masa kecil yang dulu belum sempat mereka miliki, seperti seri karya Enid Blyton. Sementara itu, mahasiswa biasanya datang secara berkelompok sebulan sekali, bertepatan dengan waktu pencairan uang saku.

Memasuki akhir pekan, mulai Jumat hingga Minggu, jumlah pengunjung meningkat cukup signifikan. Dalam sehari, Kanaka Buku mampu menjual sekitar 30 hingga 40 buku.

Di sisi lain, Onil juga melihat fenomena baru di kalangan anak muda. Menurutnya, tidak sedikit yang membeli buku demi kebutuhan konten media sosial atau sekadar mempercantik tampilan rak buku, bukan karena benar-benar ingin membaca. Bahkan, sebagian di antaranya masih menawar harga buku yang sudah tergolong murah.

“Kadang anak muda sekarang beli buku cuma untuk konten dan ditelan mentah-mentah, padahal esensi membaca pelan-pelan itu yang bikin bahagia,” tuturnya.

Meski banyak toko buku independen kini dipadukan dengan kedai kopi, Kanaka Buku memilih tetap fokus pada penjualan buku. Onil mengaku pernah mendapat usulan dari pelanggan untuk menyediakan kopi, tetapi ia menolaknya karena ingin pelayanan terhadap pembeli buku tetap maksimal.

“Saya merasa tidak punya cukup tenaga untuk melayani semuanya, jadi tidak usah serakah karena kalau ditambahi kopi nanti urusan bukunya malah keteteran,” pungkasnya.

Exit mobile version