Kota Malang, blok-A.com – Lonceng berbunyi, tanda jam pelajaran berakhir. Sekitar pukul 11.30 WIB, datang seorang guru yang memakai baju batik berwana hitam, lengkap dengan jam tangan di lengan kirinya.
Susi Purwaningsih, salah satu guru bahasa indonesia di SMP Wahid Hasyim Kota Malang, menceritakan dampak terhadap dirinya, dari sistem zonasi itu sendiri.
“Pastinya dampaknya signifikan mas, apalagi persentase penerimaan murid di Negeri banyak, otomatis dampaknya ke sekolah swasta,” ujarnya pada Selasa (23/08/2022).
Susi menjelaskan bahwa sudah adanya aduan terhadap Dinas Pendidikan Kota Malang, agar sistem zonasi bisa dirubah atau memberikan keadilan bagi sekolah swasta yang terdapak sistem zonasi.
“Ketika mengikuti MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) sudah ada aduan ke Dinas Pendidikan untuk perubahan sistem zonasi. Tapi sampai saat ini, masih ditampung. Karena kan sulit juga mencari murid, kalo zonasi dibuka besar-besaran, pastinya dampaknya lebih besar,” ujar Susi.
Walapun hanya 10% penurunan murid di SMP Wahid Hasyim Kota Malang, Susi meduga bahwa itu merupakan dampak yang ditimbulkan dari efek zonasi.
“Gak terlalu signifikan, tapi berpengaruh ya mas tiap tahunnya. Kalau jumlah murid sedikit, pastinya bisa mengarah ke finansial guru-guru swasta juga. Saat ini di SMP Wahid Hasyim hanya menerima 75 murid per 3 kelas dari satu angkatan. Tahun kemaren 90an murid kami terima,” ujarnya.
Selama 3 tahun mengajar, ia tetap bertahan mengabdi sebagai tenaga pengajar disana. Ia tetap menerima dengan lapang dada, walau hasil belum sepadan dari apa yang ia kerjakan. Susi sempat mengucapkan peribahasa yang ia yakini, menjadi penguat dalam mengajar siswa-siswinya.
“Dari penghasilan saya sebagai guru, kalau dikalkulasikan belum cukup mas. Mungkin kisaran ratusan ribu dalam sebulan,” ujarnya sambil tersenyum.
“Karena niatnya sebagai tenaga pengajar, ada satu peribahasa yang melekat yaitu bekerjalah tampa pamrih, pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi kita tetap terima dan ikhlas, berapa pun yang kita dapat, tapi tetap harus ada perubahan, tidak boleh stuck,” imbuhnya.
Selain mendapatkan gaji dari pekerjaannya, Susi harus memutar otak untuk mencari tambahan demi mencukupi keperluan hidupnya yang lain. Ia bersama suaminya, menekuni di bidang budidaya jamur, sebagai penghasilan tambahannya.
“Pastinya kita ada bisnis sampingan, yaitu budidaya jamur. Suami saya kebetulan kan concern nya dibidang peternakan, jadi kita rintis bareng-bareng dan sudah berjalan 3 tahunan,” ujarnya.
Susi tidak ambil pusing mengenai imbas zonasi. Sesuai yang dikatakannya, bahwa ikhlas harus tetap dengan usaha. Terbukti, budidaya nya bisa menghasilkan dan terjual di pasar Kota Malang.
“Alhamdulillah, ini kita budidaya jamur untuk memasak sayuran ya. Dan dipasarkannya masih diarea Malang saja, kaya Pasar Madyopuro atupun bakul-bakul,” kata Susi.
Susi menuturkan bahwa kebanyakan guru swasta beralih mencari bisnis sampingan seperti kos-kosan, berjualan ,dan lain lain.
“Kebanyakan usaha sampingan ya mas, mulai dari kos-kosan, bahkan ada juga kok yang nitip jualannya di kantin sekolah,” tuturnya.
Hingga kini, Susi hanya bisa mengandalkan usaha dan gaji perbulannya sebagai seorang guru, untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari.
“Secara global, yang terbaik lah untuk sekolah dan ada solusi terkait efek dari zonasi itu sendiri,” tutup Susi.
(mg1/bob)










Balas
Lihat komentar