Moeldoko Ciptakan Bibit Padi Unggul M70 dan M400 Per Hektar Mampu Hasilkan 9,3 Ton Padi

Banyuwangi blok-a.com – Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal TNI (Purn), Moeldoko memberi support kaum milenial Banyuwangi yang ingin merubah nasibnya dan berkarya di bidang pertanian, dan berhasil melakukan riset bibit padi unggul M70 dan M400.

Sejak dirinya pensiun dari TNI. Dirinya memantapkan untuk berkecimpung di bidang pertanian. Pasalnya, dirinya dibesarkan dan dididik oleh orang tua petani.

Pria asal Kediri itu mengaku, meski dirinya menjadi kepala staf Kepresidenan, jika ada kebijakan pemerintah yang merugikan petani dirinya akan berteriak.

“Saat saya mengkritisi kebijakan pemerintah di bidang pertanian, dan merugikan petani, Alhamdulillah jeritan saya langsung di dengar,” ujar Moeldoko, Senin (21/6/2022) usai menggelar tanya jawab dengan petani milenial di tempat wisata De Djawatan.

Pertanian di Indonesia kalah jauh dengan Brasil dan Vietnam. Di Indonesia tanaman padi per hektar hanya mampu menghasilkan 3,6 ton. Agar petani mendapat hasil yang maksimal, dirinya melakukan riset dan bibit padi M70 dan M400.

“Bibit padi M70 umumnya hanya 79 hari, dan per hektarnya bisa menghasilkan 9,3 ton padi, riset ini saya lakukan di Buleleng, Bali,”
ungkapnya.

“Makanya kalau ingin kaya jadi petani saja,” ajak Moeldoko kepada ratusan anggota HKTI Banyuwangi dan Projo Banyuwangi.

Moeldoko mengingatkan kepada kaum milenial yang hadir di acara tersebut, di Indonesia ini memiliki dua iklim, yakni iklim kering dan iklim basah, berbeda dengan negara lain.

Menurutnya, dengan dua iklim ini seharusnya bangsa Indonesia mampu bersaing dengan negara lain.

“Kita memiliki buah tropis yang tidak di miliki oleh negara lain, maka dari itu, ayo kita berkarya di bidang pertanian,” ajaknya.

Kepala Staf Kepresidenan mengungkapkan, setiap tahunnya ada 2,5 juta orang yang mencari kerja. Kalau anak muda, kaum milenial tidak mau kerja di bidang pertanian, tingkat pengangguran akan tinggi.

“Kalau kalian ogah menekuni dunia pertanian maka angkatan kerja indonesia yang jumlahnya setiap tahun kurang lebih 2,5 Juta, mau kemana itu, mau kemana mereka, maka sektor pertanian memberikan janji yang masih memungkinkan,” tegasnya.

Menurut Moeldoko, di sektor pertanian ini yang mampu menyerap tenaga kerja yang sangat luar biasa besar.

“Sektor pertanian memberi janji yang masih memungkinkan, menjadi sektor atau ladang sektor pekerjaan yang masih menjanjikan,” tandasnya.

Dia mencontohkan, berkat ketekunan anak muda di Vietnam mampu menciptakan benih tanaman Lada.

“Di Vietnam tanaman Lada per hektarnya bisa menghasilkan 3,6 ton. Sedangkan di Indonesia hanya 0,8 ton,” bebernya.

Sebagai kaum milenial kata Moeldoko harus mampu memecahkan kelemahannya, kenapa Vietnam bisa, bangsa Indonesia tidak bisa?.

“Ayo anak muda, jangan pantang mundur, dan segera bangkit,” kata Moeldoko memberi semangat.

Di era digitalisasi ini, anak muda Banyuwangi harus bisa membangun digitalisasi di sektor pertanian.

“Bikin aplikasi yang bisa menyeimbangkan antara suplai dan demand. Suplai di Banyuwangi keunggulannya apa?. Misal, di Banyuwangi pertanian yang maju itu di Lombok (Cabe,red). Buat aplikasi yang bisa menghubungkan antara produsen dan konsumen, dengan aplikasi ini petani cabe bisa melihat pergerakan harga cabe,” paparnya.

“Dengan adanya aplikasi itu, harga cabe di daerah A turun, berbeda dengan di daerah B yang mayoritas penduduknya senang pedas, harga cabe jelas baik. Ini untungnya punya aplikasi di bidang pertanian,” pungkasnya. (Gim)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com