Bupati Blitar: Brokohan Pancasila Wujud Syukur dan Amalkan Dasar Negara

Bupati Blitar, Rijanto didampingi Wabup Beky Herdihansah menerima Pataka Pancasila di Pendopo Sasana Adhi Praja. (blok-a.com/Fajar)
Bupati Blitar, Rijanto didampingi Wabup Beky Herdihansah menerima Pataka Pancasila di Pendopo Sasana Adhi Praja (foto: Blok-a.com/Fajar)

Blitar, Blok-a.com – Bupati Blitar Rijanto menegaskan penyelenggaraan Brokohan Pancasila V di Pendopo Sasana Adhi Praja, Senin (1/6/2026) malam, memiliki makna mendalam dan jauh melampaui sekadar kegiatan seremonial peringatan Hari Lahir Pancasila. Menurutnya, tradisi ini merupakan wujud nyata rasa syukur, doa bersama, serta upaya sungguh-sungguh merawat nilai kebangsaan peninggalan para pendiri bangsa.

Di hadapan ribuan warga yang memadati lokasi, Rijanto memberikan apresiasi atas antusiasme luar biasa dari masyarakat, budayawan, seniman, dan berbagai elemen yang terlibat. Partisipasi luas tersebut dinilainya sebagai bukti kuat bahwa ikatan persatuan dan kebersamaan di wilayahnya tetap kokoh terjaga.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Saya menilai tingginya partisipasi masyarakat menjadi bukti kuat bahwa semangat persatuan, gotong royong, dan kebersamaan masih terjaga dengan baik di Kabupaten Blitar,” kata Rijanto.

Bupati Rijanto menjelaskan, kekhasan Brokohan Pancasila yang membedakannya dengan tradisi serupa di daerah lain. Berbeda dengan Grebeg Pancasila yang menjadi identitas Kota Blitar, tradisi di tingkat kabupaten ini dihadirkan sebagai ungkapan rasa syukur dan selamatan. Sekaligus sarana mengingatkan masyarakat agar senantiasa mengamalkan butir-butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Brokohan Pancasila bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan wujud rasa syukur, doa bersama, dan ikhtiar untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa,” tandasnya.

Lebih lanjut Rijanto menyampaikan, nilai-nilai yang dikandung dalam kegiatan ini, sangat selaras dengan jiwa dasar negara. Semangat guyub, kerukunan, toleransi, hingga budaya gotong royong yang tampak nyata mulai dari kirab Pataka, pawai lampion, hingga pertunjukan seni, adalah cerminan murni dari apa yang diperintahkan dalam kelima sila Pancasila.

“Nilai guyub, rukun, toleransi, dan gotong royong yang terkandung dalam kegiatan tersebut sejalan dengan semangat Pancasila,” tegasnya.

Rijanto juga memberikan penghargaan khusus kepada para budayawan dan panitia yang selama lima tahun terus merintis tradisi ini. Keberhasilan pelaksanaan tahun kelima ini membuktikan bahwa pendekatan budaya sangat efektif mendekatkan masyarakat pada nilai luhur bangsa.

“Selama lima tahun terakhir, para budayawan, seniman, dan pegiat budaya telah berjuang menghadirkan ruang penghayatan nilai-nilai Pancasila yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Hal ini patut kita dukung dan lestarikan bersama,” ujarnya.

Menurut Rijanto, rangkaian prosesi mulai dari pengambilan Pataka di Perpustakaan Bung Karno, estafet ke DPRD, hingga penerimaan simbolis di Pendopo memiliki makna filosofis mendalam. Hal itu dimaknai sebagai simbol kelanjutan semangat para pendiri bangsa ke tangan generasi sekarang, yang diperkuat lewat keberagaman seni yang ditampilkan.

“Prosesi estafet Pataka Pancasila ini adalah simbol kelanjutan semangat para pendiri bangsa ke tangan masyarakat Kabupaten Blitar. Keberagaman seni dan budaya yang ditampilkan semakin menguatkan makna persatuan dalam bingkai Pancasila,” jelasnya.

Rijanto mengajak seluruh warga menjadikan tema peringatan tahun ini “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” sebagai pedoman hidup. Semangat itu diharapkan menjadi landasan nyata dalam membangun daerah yang semakin maju dan berkarakter.

“Mari jadikan tema Hari Lahir Pancasila ini sebagai pedoman hidup, untuk bersama-sama membangun Kabupaten Blitar yang berdaya, berjaya, aman, damai, dan senantiasa dilandasi semangat kebangsaan yang kuat,” pungkas Rijanto. (jar)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com