Malang, Blok-a.com – Taman Rekreasi Tlogomas pernah menjadi salah satu ikon wisata keluarga di Kota Malang. Namun seiring berjalannya waktu, pamornya mulai meredup. Perubahan kondisi fasilitas, menurunnya minat berkunjung, hingga dampak pandemi membuat tempat ini tak seramai dulu.
Kondisi terkini mengenai keadaan Tlogomas tergambar dari cerita karyawan dan para pengunjung yang masih setia datang.
Isa, penjaga tiket yang telah bekerja selama 12 tahun, menyebut bahwa kondisi Tlogomas sudah jauh berbeda dibanding masa sebelumnya.
“Kondisinya ya kayak gini, nggak kayak dulu. Karyawan juga kurang. Dampaknya dari Covid, nggak seperti sebelum Covid,” ujarnya saat ditemui di wisata Tlogomas, Rabu (12/11).
Menurutnya, penurunan pengunjung mulai terjadi setelah pandemi. Meski belakangan mulai ada peningkatan, suasana saat ini tidak bisa dibandingkan dengan masa sebelum 2020.
“Habis Covid itu pengunjungnya menurun, tapi sekarang udah mulai ramai lagi. Mungkin karena banyak anak-anak sekolah sama ibu-ibu yang ada jadwal renang rutin di sini,” tambahnya.
Ibu Isa melihat penyebab utama berkurangnya minat datang bukan hanya pandemi, tetapi juga karena fasilitas tidak lagi lengkap seperti dulu.
“Mungkin kurang lengkap. Dulu kan ada taman wisatanya, taman edukasi. Sekarang karyawannya kurang jadi perawatannya kurang,” ujar wanita tersebut.
Hanya Kolam Renang yang Ramai
Jumlah karyawan yang dulu bisa mencapai 13–14 orang kini hanya tinggal lima. Kondisi tersebut membuat pengelola hanya sanggup merawat fasilitas utama, yakni kolam renang.
“Yang terpenting kolamnya bersih. Yang dicari orang sekarang cuma kolamnya,” papar Isa.
Area lain seperti kantin juga tidak selalu aktif, terutama pada hari kerja. Minimnya wahana baru dan kurangnya perawatan membuat sebagian area tidak lagi menjadi tujuan rekreasi pengunjung.
Mas Adil, guru yang membawa murid-muridnya rutin berenang, menilai Tlogomas masih memberikan fasilitas dasar yang memadai, khususnya untuk kegiatan olahraga air.

“Tempatnya cukup bersih, ruang gantinya banyak, bisa memfasilitasi anak-anak,” tuturnya sembari memantau anak muridnya berenang di wisata Tlogomas, Rabu (12/11).
Namun, ia mengakui bahwa meskipun kolam renang terlihat ramai, beberapa bagian lain justru tampak tidak terurus dan sepi.
“Biasanya pas kita datang kolam renang ini ramai, tapi ada tempat yang kok sepi banget. Ini tempat apa nih kok sepi banget,” tambahnya.
Menurutnya, daya tarik Tlogomas bisa meningkat kembali jika fasilitasnya dirawat dan diperbarui.
“Ada beberapa fasilitas yang mungkin sudah usia atau butuh cat. Di ruang ganti juga ada yang nggak bisa dikunci. Kalau diperbaiki, tampilannya bisa lebih menarik buat pengunjung,” jelasnya.
Ada Komunitas yang Tetap Setia
Dua pengunjung dari komunitas renang, Lilik dan Titik, merasakan perubahan yang cukup drastis. Mereka menyebut kondisi Tlogomas kini memprihatinkan.
Mereka merasa simpati atas kondisi Taman Rekreasi Tlogomas saat ini. Bahkan, mereka mendengar kabar pengeluaran dari biaya operasional wisata ini tidak sama dengan pemasukannya.
“Kita itu sampai kasihan, karena ini dengar-dengar tidak sesuai pengeluaran dan pemasukannya. Makanya kita dengan seperti ini kita membantu dengan cara ibu-ibu yang sepuh memberi tahu anaknya, alhamdulillah sekarang udah mulai bangkit,” terang Titik kepada tim Blok-a.com, Rabu (12/11).
Lebih lanjut, mereka berdua menjelaskan komunitasnya menggunakan kolam renang di wisata Tlogomas ini dengan rutin tiap minggunya dan membawa beberapa teman se-komunitasnya
“Karena di sini kita setiap hari Rabu dan Kamis paling tidak orang-orang dateng 20,” ujar Lilik.
“Iya karena kan ibu-ibu itu memberitahukan ke anak anaknya, dan semoga hal itu bisa membawa hal positif bagi wisata tlogomas ini nak. Kan, kasihan kalau cuma kita.” sambung Titik.
Meski demikian, mereka juga melihat persaingan semakin berat karena wisata di Batu menawarkan banyak pilihan dalam satu kali perjalanan.
“Tapi sekarang kan persaingan banyak, apalagi di Batu itukan bagus bagus, jadi orang sudah menuju ke Batu, karena orang-orang sekali ke Batu bisa berkunjung ke banyak wisata,” pungkasnya. (mg2/gni)
Penulis: Muhammad Naufal Abiyyu (mahasiswa magang UTM Bangkalan)










Balas
Lihat komentar