Blok-a.com – Dalam sepekan terakhir, kasus dugaan keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin marak terjadi di berbagai daerah, dengan ratusan siswa menjadi korban.
Beberapa siswa melaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan di sekolah mereka. Ratusan korban kemudian mendapatkan perawatan di puskesmas, bahkan tidak sedikit yang harus dirawat di rumah sakit.
Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dikutip dari CNN Indonesia, sejak program MBG diluncurkan hingga September 2025, lebih dari 5.360 anak dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu dari program tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan masyarakat karena bertentangan dengan tujuan MBG yang seharusnya memberikan manfaat gizi, namun justru menyebabkan masalah kesehatan.
Berikut ini adalah daftar kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi dalam seminggu terakhir:
Gunungkidul (19 Korban)
Kasus pertama dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di wilayah Semin, Kabupaten Gunungkidul.
Sebanyak 19 siswa dari tiga sekolah mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu MBG di sekolah. Dari total tersebut, 15 siswa merupakan murid SD, 3 siswa SMP, dan 1 siswa SMA.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa kasus ini terjadi pada Senin (15/9/2025), tak lama setelah para siswa mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Hari ini kami sudah melakukan penyelidikan epidemiologi dan hasilnya 19 murid yang terdiri dari 6 orang laki-laki dan 13 orang perempuan mengalami sakit dengan gejala keracunan pangan,” kata Ismono, Selasa (16/9/2025).
Gejala yang dialami meliputi muntah, nyeri perut, pusing, dan demam. Seluruh siswa telah mendapatkan penanganan medis.
Baubau (37 Korban)
Kasus dugaan keracunan makanan juga terjadi di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Sebanyak 37 siswa dari SMA Negeri 7 dan SD Hidayatullah diduga keracunan setelah makan makanan dari program MBG di sekolah mereka.
Kejadian ini terjadi pada Selasa (16/9/2025) siang. Puluhan siswa mengeluhkan pusing, mual, dan sakit perut setelah makan siang. Mereka kemudian dibawa ke tiga puskesmas dan rumah sakit di Baubau untuk mendapat perawatan.
Kepala SMA Negeri 7 Baubau, Sartati, mengatakan siswa diduga keracunan setelah makan ayam dari menu MBG.
Ia menjelaskan, makanan tiba di sekolah sekitar pukul 11.30 WITA dan langsung dibagikan ke kelas-kelas. Beberapa saat kemudian, ada siswa yang memberitahu tentang bau tidak sedap dari ayam tersebut.
“Tiba-tiba ada siswa melapor bahwa ayamnya tidak enak baunya, jadi guru-guru buka karena masih ada sisa omprengnya ternyata betul (sudah bau),” kata Sartati.
Lamongan (13 Korban)
Kasus berikutnya terjadi di SMA Negeri 2 Lamongan, Jawa Timur, di mana 13 siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG, Rabu (17/9/2025).
Humas SMA Negeri 2 Lamongan, Anggraeni, membenarkan bahwa beberapa siswa dibawa ke rumah sakit. Namun, pihak sekolah belum dapat memastikan apakah penyebabnya adalah keracunan makanan.
Menurut Anggraeni, gejala seperti pusing, mual, dan muntah mulai dirasakan siswa sekitar pukul 14.30 WIB. Kemudian, pada pukul 15.38 WIB, tiga siswa dibawa ke RS Narsul Ummah untuk mendapatkan perawatan.
Menanggapi kejadian ini, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di wilayahnya.
“Tentu nanti kami evaluasi secara total, baik itu menu, baik penyajian, semuanya lah, nanti akan kami lakukan evaluasi secara menyeluruh,” kata Yuhronur, Kamis (18/9/2025).
Yuhronur juga menambahkan bahwa pihaknya akan segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG untuk mencari penyebab pasti keracunan tersebut.
Sumbawa (130 Korban)
Kasus serupa juga terjadi di Kecamatan Empang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 130 siswa dari beberapa sekolah diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari total tersebut, 94 siswa berasal dari MTsN 2 Sumbawa, 20 siswa dari MIN 3 Sumbawa, 11 siswa dari MAN 3 Sumbawa, dan 2 siswa dari SMPN 3 Empang.
Para siswa mulai mengeluhkan gejala seperti diare, mual, dan muntah pada Rabu pagi (17/9/2025), sehari setelah menerima paket makanan MBG yang dibagikan pada Selasa (16/9/2025).
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbawa, Nur Atika, menduga makanan MBG yang dikonsumsi tercemar bakteri Escherichia Coli (E Coli) berdasarkan gejala yang dialami para siswa.
“Seperti itu. Masih dugaan,” ungkapnya, Kamis (17/9/2025).
Saat ini, pihaknya telah mengambil sampel makanan dan air dari program MBG di wilayah Empang untuk dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Selain itu, pengawasan terhadap kebersihan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di setiap kecamatan juga akan diperketat.
Garut (657 Korban)
Kasus dugaan keracunan dengan jumlah korban terbanyak terjadi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebanyak 657 siswa dari empat sekolah dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Dugaan keracunan terjadi pada Selasa (16/9/2025). Awalnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Garut mencatat 150 siswa terdampak. Namun setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, jumlahnya meningkat menjadi 657 siswa pada Jumat (19/9/2025).
Kepala Dinkes Garut, Leli Yuliani, mengatakan peningkatan jumlah korban diketahui setelah tim kesehatan melakukan pemeriksaan di empat sekolah penerima program MBG, yaitu SMA Siti Aisyah, MA Maarif Cilageni, SMP Siti Aisyah, dan SDN 2 Mandalasari.
“Berdasarkan penelusuran petugas, ada peningkatan kasus dugaan keracunan MBG di empat sekolah. Tercatat ada 657 korban, dengan 10 pelajar masih dirawat inap. Sementara itu, 9 orang sudah diperbolehkan pulang karena kondisi mereka membaik,” jelas Leli, Jumat (19/9/2025).
Gejala yang dialami para siswa meliputi sakit perut, pusing, mual, muntah, dan diare.
Leli menambahkan bahwa sampel makanan telah diambil dan dikirim ke laboratorium di Bandung untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Banggai Kepulauan (314 Korban)
Kasus dugaan keracunan makanan terbaru terjadi di Salakan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Jumlah korban mencapai 314 siswa sejak tanggal 17 hingga 19 September 2025.
Kejadian bermula saat tujuh siswa SDN Tompudau mengalami gejala seperti pusing, kulit merah, dan sesak napas pada Rabu (17/9/2025). Tidak lama setelah itu, gejala serupa juga dialami oleh siswa dari SMP, SMA, dan SMK di wilayah tersebut.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Salakan, Erick Alfa Handika Sangule, menyampaikan bahwa dugaan awal penyebab keracunan berasal dari menu ikan tuna goreng saus.
“Dugaan awal penyebab masalah ini adalah makanan ikan tuna goreng saus,” kata Erick, Jumat (19/9/2025).
Erick juga mengatakan bahwa pihaknya telah mengambil sampel makanan dan dikirim untuk diuji di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Palu.
Atas kejadian ini, distribusi program MBG di Kabupaten Banggai Kepulauan dihentikan sementara sampai hasil investigasi selesai. (hen)










Balas
Lihat komentar