Kota Malang, blok-a.com – Perayaan Hari Kemerdekaan setiap bulan Agustus kerap disemarakkan dengan karnaval, lomba, hingga upacara di berbagai instansi. Namun, budayawan Kota Malang, Isa Wahyudi atau akrab disapa Ki Demang, menilai bahwa semarak tersebut mulai bergeser dari makna sesungguhnya.
Menurutnya, kreativitas masyarakat dalam lomba-lomba kemerdekaan memang patut diapresiasi. Kini tidak hanya lomba tradisional seperti balap karung atau panjat pinang, tetapi juga muncul lomba unik bahkan nyeleneh seperti parade cosplay hingga joget massal.
“Fenomena ini menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Kreativitas jadi sarana ekspresi identitas kelompok, meski kadang melenceng dari makna historis kemerdekaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pelaksanaan upacara bendera yang sering menimbulkan insiden, mulai dari bendera gagal berkibar hingga peserta pingsan. Menurutnya, ritual ini tetap penting sebagai simbol kolektif, tetapi kini lebih sering dipersepsi sebagai tontonan.
“Sakralitas upacara kadang bergeser menjadi hiburan. Di sisi lain, masyarakat semakin mengonsumsi perayaan kemerdekaan sebagai momen viral di media sosial,” kata Ki Demang.
Lebih lanjut, ia menilai karnaval kemerdekaan yang seharusnya menonjolkan budaya dan simbol perjuangan kini banyak didominasi hiburan dan sensasi.
“Banyak karnaval kehilangan ruh nasionalisme. Alih-alih menampilkan pawai budaya daerah, lebih sering menonjolkan aspek hiburan. Ini gejala dekulturalisasi,” tuturnya.
Selain itu, beban ekonomi masyarakat juga tak jarang muncul akibat perayaan. Iuran RT, biaya kostum karnaval, hingga kewajiban mengikuti kegiatan dinilai bisa membebani warga di tengah kondisi ekonomi sulit.
“Ada dissonansi kognitif di sini. Masyarakat ingin gembira merayakan, tapi pada saat bersamaan terbebani biaya. Akhirnya kegembiraan bercampur dengan rasa terpaksa,” jelasnya.
Ki Demang menekankan pentingnya mengembalikan perayaan kemerdekaan sebagai ruang refleksi, tanpa menghilangkan keceriaan. Ia mengusulkan agar panitia kegiatan lebih mengintegrasikan nilai sejarah dan budaya, mendorong partisipasi inklusif tanpa beban finansial, serta menjaga keseimbangan antara hiburan dan makna.
“Spirit nasionalisme jangan sampai tenggelam dalam hingar-bingar festival. Perayaan kemerdekaan seharusnya jadi ruang rekoleksi kolektif, bukan sekadar pesta tahunan,” pungkasnya. (yog/bob)









