Dikritik Gagal 162 Emas, Ini Jawaban KONI Kota Malang

Kantor KONI Kota Malang yang terletak di Jalan Tangkuban Perahu, Kecamatan Klojen (blok-a.com / Yogga Ardiawan)
Kantor KONI Kota Malang yang terletak di Jalan Tangkuban Perahu, Kecamatan Klojen.(blok-a.com/Yogga Ardiawan)

Kota Malang, blok-a.com – Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang, R Djoni Sudjatmoko menanggapi kritik dari salah satu anggota dewan yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Porprov 2025, khususnya karena gagal memenuhi target 162 medali emas. Djoni meminta agar kritik disampaikan secara komprehensif dan tidak menyudutkan cabang olahraga yang sudah berjuang keras.

“Kalau mengevaluasi itu yang komprehensif, jangan kesannya menyudutkan. Itu tidak baik. Ini sama dengan menyakiti cabor-cabor,” tegas Djoni saat dikonfirmasi, Sabtu (19/7/2025).

Menurutnya, kritik tanpa melihat pencapaian secara utuh mengaburkan lompatan prestasi yang diraih Kota Malang. Dalam Porprov Jatim 2025, Kota Malang meraih 136 medali emas, meningkat tajam dari sebelumnya hanya 74 medali. Capaian ini menempatkan Kota Malang di posisi kedua, tepat di bawah Surabaya dan di atas Sidoarjo.

“Kalau mau jadi orang yang baik itu melihat targetnya. Target kita runner-up, dan mimpi kita menuju juara umum. Itu belum pernah dipikirkan oleh kabupaten/kota lain,” tambahnya.

Djoni menyebut pertumbuhan prestasi Kota Malang mencapai 90 persen, angka yang diklaim belum pernah dicapai daerah lain dalam sejarah Porprov Jatim. Target 162 medali emas disebut sebagai strategi untuk menyemangati atlet dan membangun peta jalan menuju juara umum pada 2027.

“Kalau target medali itu adalah strategi. Medali itu strategi untuk mengamankan target. Di mana-mana saya sampaikan, target kita 162 emas. Itu bukan mimpi kosong, itu peta jalan,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa hanya Surabaya dan Malang yang pernah menembus angka 100 medali emas. Menurutnya, capaian tersebut merupakan sejarah bagi Kota Malang sebagai kota kedua yang berhasil memperoleh lebih dari 100 emas dalam ajang Porprov IX Jawa Timur.

“Capaian ini sejarah. Yang sudah melewati 100 emas itu hanya Surabaya dan Malang. Sidoarjo belum pernah. Jadi jangan hanya melihat angka, lihatlah lompatan yang sudah kami buat bersama cabor dan atlet,” pungkasnya.

Anggota Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Kota Malang, Moses Christian, juga menanggapi kritik dari salah satu anggota DPRD Kota Malang. Ia mempertanyakan kontribusi dewan tersebut selama proses persiapan Porprov.

“Sekarang kami balik tanya, dimana peran oknum DPRD Kota Malang itu saat Porprov lalu? Apa dia memperjuangkan kebutuhan atlet atau hadir mendampingi saat pertandingan,” tanyanya.

Senada, Kepala Bidang Sport Tourism KONI Kota Malang, Safril atau akrab disapa Caping, menjelaskan bahwa Porprov 2025 telah memenuhi empat indikator kesuksesan: penyelenggaraan, prestasi, pemberdayaan ekonomi, dan administrasi.

“Untuk sukses prestasi dari KONI sendiri sudah terpenuhi, artinya sudah dua kali lipat dari kemarin perolehan medali emas. Kemudian sukses ekonomi, ya terpenuhi juga lah, 75 sampai 80 persen terpenuhi lah UMKM bagian perputaran ekonominya. Semua UMKM, hotel atau penginapan kan sudah melebih, sudah penuh okupansi hotel itu. Kemudian penyelenggaraan juga kita anggap sukses lah, walaupun tidak harus 100 persen. Secara administrasi juga bagus lah, artinya semua tercatat, hal-hal lain juga tercatat,” jelas Caping.

Sebelumnya, Anggota Komisi D DPRD Kota Malang dari Fraksi PKB, Saniman Wafi, menyatakan akan meminta pertanggungjawaban KONI dan Disporapar atas hasil Porprov Jatim 2025. Ia menilai capaian 136 emas belum memenuhi target yang telah ditetapkan.

“Target dari Kota Malang ini tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan, ini menjadi catatan ke depan karena kami di DPRD Kota Malang ini juga terlibat di dalam penganggaran perencanaan sebagai tuan rumah,” kata Wafi.

Ia mengatakan evaluasi akan dilakukan untuk mengetahui faktor kegagalan memenuhi target, termasuk pencapaian setiap cabor dan penggunaan anggaran selama Porprov berlangsung.

“Ini perlu adanya juga evaluasi nanti kami meminta pelaksana penanggung jawab di lapangan Disporapar dan KONI nanti akan ada rapat koordinasi kami akan meminta laporan, baik kejuaraan cabor mana yang sudah dapat dan yang perlu kita evaluasi apa saja selama pelaksanaan. Termasuk penggunaan anggaran apakah sudah sesuai,” ungkap Wafi.

Ia juga menegaskan pentingnya aspek pertanggungjawaban karena Porprov mengusung empat pilar kesuksesan.

“Yang paling penting lagi soal pertanggungjawaban karena di Porprov ini kemarin kita punya moto sukses sebagai tuan rumah sukses kejuaraan sukses pemberdayaan ekonomi dan yang terakhir sukses dalam laporan pertanggungjawaban atau administrasi. Itu yang akan kami minta dan yang akan kami tuntut nanti,” ujar Wafi.

“Kalau nanti tentunya ada ketidaksesuaian pasti ada apa tindakan ataupun catatan-catatan yang harus kami berikan kepada Disporapar dan KONI dan tentunya ini juga menjadi tanggung jawab Pemkot Kota Malang. Secepatnya dipanggil karena ketika berlarut nanti lupa segera kita bersurat ke KONI,” tambah Wafi.(yog/lio)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com