Demi Kurangi Sampah, Wali Kota Madiun Larang Warga Hajatan dengan Prasmanan

Ilustrasi: penyajian makanan dengan cara prasmanan (foto: wikimedia)
Ilustrasi: penyajian makanan dengan cara prasmanan (foto: wikimedia)

Blok-a.com – Wali Kota Madiun, Maidi, melarang penyajian makanan secara prasmanan dalam acara hajatan. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi timbunan sampah serta mencegah pemborosan makanan yang kerap terjadi pada pesta pernikahan atau acara keluarga lainnya.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi kritis pengelolaan sampah di Kota Madiun. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winongo kini menghadapi penumpukan sampah hingga ketinggian 20 meter, sementara kota ini menghasilkan 100-120 ton sampah setiap harinya.

Kebijakan ini sejalan dengan kondisi nasional Indonesia yang memprihatinkan terkait pemborosan makanan. Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP) bertajuk Food Waste Index Report 2024, Indonesia berada diposisi teratas dengan jumlah sampah makanan rumah tangga terbanyak di Asia Tenggara. Tercatat jumlahnya diperkirakan mencapai 14,73 juta ton per tahun.

Data Kementerian PPN/Bappenas menunjukkan situasi yang lebih mengkhawatirkan. Kementerian PPN/Bappenas memprediksi sampah makanan atau timbulan akibat food loss and waste (FLW) dapat mencapai 112 juta ton per tahun atau 344 kilogram/kapita/tahun. Fakta ini kontras dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi masalah kelaparan.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, prasmanan juga dinilai sebagai bentuk pemborosan yang hanya memenuhi gengsi.

“Hari ini banyak yang gengsi. Mau pernikahan besar-besaran. Akhirnya sisa makanannya banyak. Kondisi budaya seperti ini harus diiubah. Insyaallah saya buat perwal di Madiun. Hajatan boleh di gedung, tetapi jangan prasmanan, pakai kardus saja,” Kata Maidi, dikutip dari Kompas (13/6/2025).

Maidi menegaskan bahwa pihaknya akan segera menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwal) yang melarang sistem prasmanan dalam hajatan.

Kebijakan ini merupakan terobosan inovatif dalam pengelolaan acara hajatan. Alih-alih menggunakan sistem prasmanan, makanan akan disajikan dalam kemasan kardus yang memungkinkan tamu membawa pulang hidangan tersebut.

Penggantian sistem prasmanan dengan kemasan kardus dinilai memiliki dampak positif berlipat. “Kalau kita boros alam tidak akan menjamin ke depan,” ungkap Maidi.

Menurut Maidi, dengan model penyajian tidak prasmanan maka tamu bisa membawa pulang makanan. Selanjutnya makanan yang dibungkus dalam kardus dapat dinikmati bersama keluarga di rumah.

“Kalau dibawa ke rumah tidak menyisakan makanan. Dan TPA kita tidak berkelebihan. Kalau prasmanan banyak sisa,” lanjutnya.

Selain dari sisi lingkungan, Maidi juga memperhatikan dari sisi kesehatan masyarakat akibat dari kebiasaan makan berlebihan saat hajatan. Warga Madiun banyak yang mengalami hipertensi atau darah tinggi akibat pola makan tak seimbang yang tidak diimbangi dengan olahraga. (mg2/gni)

Penulis: Siti Cholifah (mahasiswi magang STIMATA)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com