Kota Malang, blok-a.com – Kota Malang mengalami deflasi selama tiga bulan berturut-turut pada tahun 2024. Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian (Diskopindag) Kota Malang terus melakukan upaya untuk menekan angka deflasi.
Deflasi adalah fenomena ekonomi yang terjadi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami penurunan dalam periode waktu tertentu. Hal ini menyebabkan daya beli masyarakat mengalami penurunan dikarenakan harga yang tidak stabil.
Diketahui, pada bulan Mei Kota Malang mengalami deflasi dengan angka -0,08 persen. Di bulan Juni di angka -0,36 persen. Serta di bulan Juli diangka -0,01 persen.
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi membenarkan bahwa daya beli masyarakat pada tiga bulan terakhir memang menurun. Namun menurutnya itu tidak berdampak signifikan terhadap deflasi.
“Ada kecenderungan kesana (penurunan daya beli). Tapi sampai hari ini tingkat konsumen yang ada di Kota Malang masih cukup besar. Konsumen tetap ada,” kata Eko Selasa (20/8/2024).
Untuk menekan deflasi tersebut, menurut Eko Diskopindag Kota Malang terus berupaya agar daya beli masyarakat dapat meningkat. Dengan menyiapkan strategi-strategi salah satunya yakni pengaktifan kembali Warung Tekan Inflasi (WTI). Dengan tujuan untuk intervensi kestabilan harga.
“Pasti akan banyak upaya, salah satunya promosi kegiatan. Warung Tekan Inflasi juga akan diadakan kembali,” ujarnya.
Kerja sama dengan Daerah lain sudah dilakukan oleh Diskopindag, hal tersebut menurut Eko juga sebagai langkah untuk mengantisipasi harga yang melambung tinggi. Eko menjelaskan, saat ini Kota Malang bekerja sama dengan Lumajang untuk komoditas cabai, juga dengan Probolinggo untuk komoditas bawang merah.
“Jika harganya melambung tinggi seperti bawang merah kemarin, kita langsung kerjasama. Artinya menjaga kestabilan harga dengan bekerja sama dengan daerah lain,” lanjutnya.
Diketahui, Penjabat (PJ) Walikota Malang, Iwan Kurniawan menyampaikan pentingnya menjaga batas ideal inflasi dalam apel pagi yang dilaksanakan pada Senin (12/8/2024) lalu. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan ekonomi daerah.
“Di dalam ekonomi daerah kategori nya ada sub indikator yang harus dicapai. Yaitu salah satunya pengendalian batas inflasi,” kata Iwan.








