Surabaya, blok-a.com – Hingga Selasa (2/5/2023), belum ada iktikad baik dari tetangga penyulut mercon hingga mengakibatkan bayi HDN (2 bulan) meninggal dunia.
Tidak ada ucapan bela sungkawa hingga ungkapan permintaan maaf. Bahkan, tetangganya pun tak melayat. Seolah tidak ada penyesalan atau perasaan bersalah.
Di sisi lain, orangtua HDN, Nur Hasim dan Nur Faizah, warga Jatirembe, Benjeng, Gresik, hanya bisa mengelus dada.
Baca Juga: Fakta-fakta Soal Bayi di Gresik yang Meninggal Usai Kaget Suara Petasan
Polisi sendiri belum reaktif. Kasus kematian bayi HDN, usia 2 bulan itu tak kunjung menarik perhatian polisi.
Padahal hasil CT Scan dokter menyebut pembuluh darah otak korban pecah akibat kaget luar biasa.
Bayi HDN sendiri meninggal dunia setelah dirawat 6 hari di rumah sakit sejak kejadian Sabtu (22/4/2023), malam takbir.
Bayi HDN sempat dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Lamongan.
HDN sempat mengalami kejang hingga sulit bernapas. Ini terjadi usai sang bayi mendengar suara ledakan petasan.
Nufus salah satu keluarga korban mengatakan, sejak kejadian hari Sabtu (22/04/2023) malam.
Keponakannya terus mengalami kejang. Sesekali napasnya terengah-terengah. Keluarga korbanpun mengupayakan agar segera ditangani secara medis.
Saat berada di RS Denisa, kondisi HDN mengalami penurunan trombosit. Namun, setelah diberikan oksigen, bayi tersebut kembali membaik.
“Untuk trombositnya turun, sampai 4,5. Usai diberikan oksigen, keadaan kembali membaik,” tambahnya.
Pada Rabu (26/4/2023), HDN kembali mengalami sesak napas. Pihak RS Denisa Gresik merekomendasikan agar Bayi dirawat di RS Muhammadiyah Lamongan.
Kata bibinya ini korban koma lalu dimasukkan ke ruang ICU. Berdasarkan hasil CT scan, ada pembuluh darah otak pecah.
“Menurut dokter, penyebab pembuluh otak pecah akibat sebuah benturan. Dalam kasus ponakannya dokter menegaskan pecahnya pembuluh otak itu bisa juga disebabkan kaget yang luar biasa,” terangnya.
Sebelumnya, bayi berusia 38 hari di Gresik berinisial HDN tewas diduga kaget akibat ledakan petasan yang disulut tetangga.
Saat itu bayi dan kedua orang tuanya sudah beristirahat di dalam kamar. Suara itu membuat almarhum HDN kaget, kejang memprihatinkan.
“Setelah mendengar petasan itu, korban kaget hingga mata kanannya nutup sebelah dan lidahnya terbalik ke atas,” tukasnya.
Bayi HDN menangis, ibunya lantas berupaya memberikan ASI. Namun, karena lidah N terbalik ke atas, ASI sulit masuk.
“Akhirnya dibawa ke bidan hingga dirujuk ke Rumah Sakit Denisa di Bunder,” ujar bibi korban.
Karena tidak ada ventilator, HDN dibawa ke RS Muhammadiyah Lamongan pada Rabu (26/4) siang. Di RS, bayi itu langsung masuk ICU karena koma.
“Usai dilakukan CT scan, ada pembuluh darah otak pecah,” tegasnya.
Pada Kamis (27/4) pukul 10.00 WIB bayi HDN dinyatakan meninggal. HDN meninggal karena pembuluh darah otak yang pecah.
“Setelah kita jelaskan bahwa tidak pernah terbentur, dokter bilang bahwa pecahnya pembuluh otak itu juga bisa disebabkan karena kaget yang luar biasa,” jelas keluarga korban.(kim/lio)










Balas
Lihat komentar