Kapolres Malang Tidak Memerintahkan Lempar Gas Air Mata dan Tutup Gerbang Kanjuruhan

Tragedi kelam Kanjuruhan Kompolnas
Komisioner Kompolnas saat konferensi pers di Mapolres Malang Selasa (4/10/2022) (blok-A/Bob Bimantara Leander)

Kabupaten Malang, blok-A.com – Tragedi kelam Kanjuruhan diduga terjadi karena lemparan gas air mata dan juga penutupan sejumlah gerbang.

Penyebab ini pun muncul karena adanya sejumlah video dan juga bukti sebab korban meninggal karena sesak nafas hingga trauma kepala dan dada.

Lalu, siapa yang memerintahkan pelemparan gas air mata dan penutupan gerbang itu?

Komisioner Kompolnas Albertus Wahyurudhanto mengungkapkan, Kapolres Malang waktu itu AKBP Ferli Hidayat tidak pernah memerintahkan anggota keamanan untuk melempar gas air mata.

Buktinya, lanjut Albertus, adalah rekaman saat apel pengemanan lima jam sebelum pertandingan.

“Kemudian tidak ada perintah dari Kapolres untuk melakukan penguraian massa tindakan represif dengan gas air mata,” ujarnya saat konferensi pers di Mapolres Malang, Selasa (4/10/2022).

Sementara itu, Albertus belum bisa menjawab perintah dari siapa sehingga aparat keamanan meluncurkan gas air mata itu di tribun. Namun, siapa dalang yang memerintahkan pelemparan gas air mata itu kini sedang dalam penyelidikan dan Kompolnas mengawasinya.

“Kami tidak tahu siapa yang memerintahkan yang jelas Kapolres tidak memerintahkan dan ada rekamannya lima jam sebelum apel. Ada buktinya,” ujarnya.

Dalam pengamanan pertandingan yang berakhir kekalahan untuk Arema FC itu, Polisi mengerahkan 2000 anggota. 600 di antaranya adalah anggota Polres Malang. Semua itu dipimpin Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat.

Sementara untuk penutupan gerbang atau pintu untuk keluar stadion Kanjuruhan, Kompolnas menyebut Kapolres Malang tidak ada perintah untuk menutup gerbang. Hal itu didapatkannya setelah berkomunikasi dengan internal Polri.

“Dan 15 menit setelah pertandingan itu dibuka dan tiba-tiba tertutup,” ujarnya.

Lalu mengapa tiba-tiba pintu sejumlah gate itu tertutup? Albertus hingga kini belum bisa menjelaskan. Namun Albertus meyakini itu bukan dari pihak polisi.

Sebab kunci gerbang kalau secara logika, kata dia, adalah ada di pihak panitia penyelenggara.

“Itu kami belum bisa menjelaskan. Tapi secara logika kunci gerbang itu ada di panpel,” tuturnya.

Kini Kompolnas pun akan langsung melihat ke lokasi Stadion Kanjuruhan. Tujuannya untuk melihat gerbang yang rusak hingga tembok yang dijebol. (bob)

Baca berita ter-update di Google News Blok-a.com dan saluran Whatsapp Blok-a.com