banner 728x250
News  

Satu Kuda Tewas Saat Mengikuti Iring-iringan Puter Kayun

banner 120x600
banner 468x60

Banyuwangi blok-a.com – Tradisi puter Kayun oleh warga lingkungan Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri kembali dilakukan setelah vakum selama dua tahun karena Pandemi Covid-19.

Tradisi salah satu suku using ini dilaksanakan H + 10 lebaran. Mereka bersama keluarganya dengan membawa bekal secukupnya naik Dokar menuju pantai Watudodol.

banner 325x300

Nahas pun terjadi, saat puluhan Dokar tersebut melewati jalan raya Situbondo – Banyuwangi, tepatnya di wilayah kelurahan Bulusan tiba-tiba satu kuda yang mengikuti iring-iringan puter Kayun tiba-tiba lemas, dan ambruk dipinggir jalan raya. Sayangnya nyawa kuda tersebut tidak bisa diselamatkan. Diduga kuda tersebut kelelahan, dan tak kuat menarik delman yang dimuati beberapa orang.

“Ada dua kuda yang kelelahan, salah satunya mati di jalan raya,” ujar salah satu peserta puter Kayun, Rabu (11/5/2022)

Tewasnya salah satu kuda peserta puter Kayun tersebut langsung menjadi perhatian warga yang melintas di jalan raya tersebut. Bahkan, karena berjubelnya orang yang melihat, arus lalulintas pun mengalami kemacetan.

Ketua adat Boyolangu, Abdallah mengatakan matinya kuda tersebut dikarenakan kelelahan. Sebelum mengikuti acara puter Kayun ini, kuda itu sempat dipergunakan untuk arak-arakan keliling kampung.

“Matinya kuda itu kemungkinan dikarenakan kelelahan, setelah berjalan cukup jauh, dari Boyolangu – Watudodol jaraknya sekitar 15 kilometer,” ujarnya.

“Kuda yang mati itu milik Atim. Saat berangkat ke Watudodol, kuda itu masih kuat. Tapi saat pulang tiba-tiba ambruk, kemudian mati,” imbuhnya.

Abdallah menjelaskan, tradisi Puter Kayun adalah tradisi napak tilas masyarakat Using Boyolangu, Kecamatan Giri Banyuwangi. Tradisi ini digelar setahun sekali, tepatnya di hari ke 10 lebaran atau di setiap 10 Syawal.

Warga berbondong-bondong mengendarai dokar (delman) dari Kelurahan Boyolangu menuju Pantai Watu Dodol sejauh lima belas kilometer.

Dokar dihias dengan aksesoris yang menarik bak kereta kencana. Start dari Boyolangu dan finish di Watudodol.

Tradisi ini sendiri sudah dilakukan sejak berpuluh tahun silam. Tujuan dari tradisi ini sendiri adalah sebagai gambaran ungkapan wujud syukur kepada tuhan.

Selain itu juga menjadi pengingat perjuangan dari leluhur setempat, yakni Buyut Jakso atau yang dikenal Ki Martojoyo.

Dimana Buyut Jakso telah memberikan banyak peninggalan yang hingga kini manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. (Dendy)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published.