TIDAR Mojokerto Sampaikan Penolakan Terbuka Budi Arie Gabung Gerindra 

Pengurus organisasi sayap TIDAR Mojokerto.(blok-a.com/Syahrul Wijaya)
Pengurus organisasi sayap TIDAR Mojokerto.(blok-a.com/Syahrul Wijaya)

Mojokerto, blok-a.com – Rencana mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, untuk bergabung ke Partai Gerindra menimbulkan reaksi keras dari kader muda partai di daerah. Di Mojokerto, organisasi sayap Tunas Indonesia Raya (TIDAR) menyuarakan penolakan terbuka terhadap langkah politik mantan ketua relawan Projo tersebut.

Penolakan ini muncul sebagai bentuk sikap kader muda Gerindra yang ingin menjaga kemurnian perjuangan partai. Bagi mereka, Gerindra bukanlah tempat bagi politisi yang datang hanya saat partai berada di puncak kekuasaan.

Ketua TIDAR Mojokerto, Defy Firman Al Hakim, menjelaskan bahwa Partai Gerindra dibangun dari proses panjang dan perjuangan kader yang bekerja dari bawah. Karena itu, setiap orang yang ingin bergabung harus memiliki niat tulus untuk berjuang, bukan mencari panggung politik.

“Gerindra adalah rumah bagi para pejuang yang membangun dari ketulusan, bukan tempat singgah bagi mereka yang hanya ingin tampil saat langit politik Gerindra sedang cerah,” ujar Defy, Senin (10/11/2025).

Defy menuturkan, mekanisme kaderisasi di Gerindra berjalan ketat dan berjenjang. Melalui sayap organisasi seperti TIDAR, para kader dibentuk untuk memahami ideologi partai, loyalitas, serta tanggung jawab terhadap masyarakat.

“Kalau di TIDAR saja ada proses kaderisasi yang ketat, apalagi di Gerindra. Tidak bisa instan. Harus melalui perjuangan dan pembuktian nyata di lapangan,” katanya.

Menurutnya, semangat perjuangan inilah yang harus dijaga agar partai tidak menjadi tempat singgah sementara bagi figur-figur politik yang hanya datang ketika partai sedang kuat.

“Kami tidak menolak orang baru, tapi kami menolak mereka yang datang hanya untuk memanfaatkan momentum. Gerindra bukan panggung, tapi medan juang,” tegasnya.

Sikap tegas itu, lanjut Defy, juga berakar dari ingatan para kader terhadap dinamika politik masa lalu. Ia menyebut, pada masa kampanye Pilpres 2019, kelompok relawan Projo yang dipimpin Budi Arie sempat berada di barisan yang berseberangan dengan Gerindra.

“Kita tidak lupa bagaimana dulu para senior Gerindra berjuang dalam masa-masa sulit. Dan kita tahu bagaimana dulu Budi Arie dan Projo-nya bersikap terhadap kader kami. Karena itu, wajar bila banyak kader merasa keberatan dengan rencana tersebut,” ujarnya.

Meski begitu, Defy memastikan bahwa TIDAR Mojokerto tetap solid di bawah arahan Ketua Umum TIDAR, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, dan akan tetap patuh terhadap setiap keputusan resmi partai.

“Kami akan terus menjaga marwah Gerindra. Kami terbuka bagi siapa pun yang ingin berjuang bersama, asal datang dengan semangat perjuangan, bukan kepentingan pribadi,” pungkasnya.(sya/lio)

Exit mobile version