Kota Malang, blok-a.com – Sebanyak 1731 informasi hoaks ditemukan oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) selama periode Januari hingga September 2023. Bahkan informasi hoaks yang berbentuk video telah mencapai lebih dari 1 miliar penayangan sejak tahun lalu.
Dari jumlah tersebut, 54 persen diantaranya adalah hoaks yang berhubungan dengan politik. Data hoaks ini diungkapkan oleh anggota Mafindo Kota Malang Eko Widiono pada acara Media Gathering di kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Malang pada Jumat 24 November 2023.
Eko mengungkapkan menjamurnya hoaks politik tersebut sudah menjadi pola yang selalu muncul mendekati tahun politik. Hoaks yang telah Mafindo temukan rata-rata tidak jauh isinya dari menjatuhkan lawan politik tertentu, agar masyarakat yang termakan hoaks tidak memilih lawan politik tersebut.
Hal ini berkesinambungan dengan kurangnya nilai indeks literasi digital masyarakat Indonesia yang hanya mendapatkan skor 3,54 dari nilai total 5. Artinya, masih banyak masyarakat yang mudah termakan hoaks tanpa melakukan riset lebih lanjut untuk mengetahui kebenaran yang ada, terutama korban hoaks yang mendapatkan informasi kurang benar dari video.
“Hari-hari ini, potensi disinformasi dari video itu lebih dari 50 video per hari. Lha, mungkin ini berkaitan dengan generasi sekarang yang lebih visual dan lebih akrab dengan media berbentuk video,” terang mantan Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia) Malang tersebut.
“Potensi penyebarannya luar biasa, ya. Lebih dari satu milyar penayangan dari 90 saluran yang kami identifikasi,” tambah Eko.
Tidak hanya video, aplikasi percakapan pun menjadi salah satu media penyebaran hoaks yang cukup gencar. “Ini menarik, karena aplikasi percakapan memiliki saluran yang tertutup tapi nanti mendapat amplifikasi media sosial,” terangnya.
Yang menarik dari hoaks yang tersebar lewat aplikasi percakapan adalah adanya enkripsi ujung ke ujung. Sehingga, andaikan dicari muaranya tapi pesan awal tersebut sudah dihapus, maka bukti percakapan tersebut akan hilang tanpa jejak.
Hal ini berpotensi ‘membantu’ para penyebar hoaks untuk menyembunyikan identitas dan barang bukti yang mereka miliki. Oleh karena itu, Eko menyarankan agar masyarakat untuk lebih bijak menanggapi kabar-kabar yang tidak jelas sumbernya dan jangan ikut menyebarkan tanpa memiliki pemahaman yang baik tentang isi kabar tersebut.









