Kota Malang, blok-a.com – Beredar video viral di media sosial Instagram dengan caption ‘Terjadi keributan antara Mahasiswa di Merjosari’. Video tersebut diunggah oleh akun @malangraya_info pada Rabu (15/1/2024) malam.
Terlihat dalam video tersebut, aksi baku hantam sekelompok pemuda di salah satu halaman rumah warga pada kawasan tersebut.
Ketika dikonfirmasi wartawan blok-a.com, Lurah Merjosari, Anton Vieira membenarkan kejadian tersebut berada di wilayahnya. Ia menjelaskan keributan tersebut terjadi karena kesalahpahaman antara mahasiswa dan juga warga sekitar.
“Sekitar pukul 20.00 WIB, di wilayah RW 5 Kelurahan Merjosari. Masalahnya yang pertama salah paham antara warga dengan mahasiswa,” ujar Anton saat dikonfirmasi melalui panggilan seluler.
Anton menceritakan, peristiwa tersebut bermula ketika salah seorang mahasiswa menelepon saudaranya dengan nada terlalu keras. Seorang warga pun menegur mahasiswa itu agar tidak bersuara terlalu keras di area kampung.
Namun, teguran tersebut disalahartikan hingga memicu perkelahian itu.
“Mungkin suaranya terlalu keras, kemudian ditegur warga. Namun mereka tidak terima, sehingga terjadi perkelahian,” bebernya.
Perkelahian ini melibatkan beberapa orang mahasiswa yang tinggal di kos tersebut. Akibatnya, dua orang terluka ringan, yaitu seorang mahasiswa dan pemilik kos.
“Pemilik kos itu mencoba melerai, tapi karena situasinya gelap, dia malah terkena pukulan,” terangnya.
Mendapat laporan adanya peristiwa itu, Anton bersama Kapolsek Lowokwaru, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta perangkat RT dan RW segera datang ke lokasi untuk melakukan mediasi. Semua pihak yang terlibat dikumpulkan untuk menyelesaikan konflik secara damai.
“Kami memberikan arahan agar kedua belah pihak saling memaafkan dan mengintrospeksi diri, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” bebernya.
Dalam mediasi tersebut, dikatakan Anton ketua RW setempat menegaskan bahwa akan ada sanksi bagi pihak yang kembali memicu keributan.
“Kalau ada kejadian serupa, pelakunya bisa dilarang tinggal di lingkungan ini,” jelasnya.
Anton mengimbau mahasiswa asal Indonesia Timur untuk lebih berbaur dan mengikuti aturan yang berlaku di lingkungan mereka tinggal.
“Kami harap teman-teman mahasiswa bisa lebih memahami tradisi warga setempat dan menjaga komunikasi yang baik,” tutur Anton.
Di sisi lain, warga juga diminta untuk bersikap ramah dan merangkul para mahasiswa atau penghuni kos yang tinggal di kawasan mereka.
“Kami ingin menciptakan suasana harmonis antara warga dan mahasiswa, karena mereka adalah bagian dari lingkungan kita juga,” imbuhnya. (yog/bob)









