Kota Malang, blok-A.com – Ketua RT kucing mati di perumahan Kota Malang buka suara terkait awalnya banyak kucing meninggal denga dugaan diracun.
Ketua RT itu bernama Wiratmono. Dia menjelaskan, awal mulanya diduga ada sejumlah warga kesal dengan banyaknya populasi kucing. Kekesalan itu memuncak karena kotoran kucing itu sampai mengotori karpet rumah ibadah.
“Berawal dari laporan-laporan warga yg masuk ke kami terkait populasi kucing yg luar biasa dan sampai fatalnya sampai mengotori karpet masjid dan itu sampai dua kali,” tuturnya ke awak media.
Wiratmono pun langsung membikin imbauan ke warganya untuk mengkondisikan kucing-kucing itu. Memang pecinta kucing di perumahan itu punya hak untuk memelihara kucing, namun warga yang lain juga mempunyai hak yang sama untuk menikmati perumahan yang bersih.
“Poop dimana mana yg nyapu warga kucing masuk masjid juga. Saya beri imbauan mereka bisa mengkondisikan kucing itu. Pecinta kucing punya hak warga juga punya hak sendiri kan bayar rumah disini mahal,” tuturnya.
Setelah itu, kucing mulai menghilang di perumahan itu. Buktinya tidak ada laporan adanya kotoran kucing berserakan di perumahan itu. Namun sebulan berselang muncul lagi. Parahnya, kata Wiratmono, kali ini warga sampai menyapu kotoran satu hari lima kali.
“Sampai di foto kotorannya di sapu sehari lima kali. Akhirnya saya rilis imbauan itu ditambahi yang terakhir pendataan kucing liar ataupun ras dan foto-fotonya,” tuturnya,
Setelah adanya tambahan imbauan itu, Wiratmono kaget. Sebab ada warganya yang penyayang kucing melapor. Terdapat kucing mati karena dugaan diracun. Berdasarkan laporan warganya ada sekitar 15 kucing mati dengan waktu dua sampai tiga hari.
“Suatu saat terus ramai viral,” ujarnya. (bob)
[07.47, 26/9/2022] Bimantara207: Kota Malang, blok-A.com – Ketua RT kucing mati di perumahan Kota Malang buka suara terkait awalnya banyak kucing meninggal denga dugaan diracun.
Ketua RT itu bernama Wiratmono. Dia menjelaskan, awal mulanya diduga ada sejumlah warga kesal dengan banyaknya populasi kucing. Kekesalan itu memuncak karena kotoran kucing itu sampai mengotori karpet rumah ibadah.
“Berawal dari laporan-laporan warga yg masuk ke kami terkait populasi kucing yg luar biasa dan sampai fatalnya sampai mengotori karpet masjid dan itu sampai dua kali,” tuturnya ke awak media.
Wiratmono pun langsung membikin imbauan ke warganya untuk mengkondisikan kucing-kucing itu. Memang pecinta kucing di perumahan itu punya hak untuk memelihara kucing, namun warga yang lain juga mempunyai hak yang sama untuk menikmati perumahan yang bersih.
“Poop dimana mana yg nyapu warga kucing masuk masjid juga. Saya beri imbauan mereka bisa mengkondisikan kucing itu. Pecinta kucing punya hak warga juga punya hak sendiri kan bayar rumah disini mahal,” tuturnya.
Setelah itu, kucing mulai menghilang di perumahan itu. Buktinya tidak ada laporan adanya kotoran kucing berserakan di perumahan itu. Namun sebulan berselang muncul lagi. Parahnya, kata Wiratmono, kali ini warga sampai menyapu kotoran satu hari lima kali.
“Sampai di foto kotorannya di sapu sehari lima kali. Akhirnya saya rilis imbauan itu ditambahi yang terakhir pendataan kucing liar ataupun ras dan foto-fotonya,” tuturnya,
Setelah adanya tambahan imbauan itu, Wiratmono kaget. Sebab ada warganya yang penyayang kucing melapor. Terdapat kucing mati karena dugaan diracun. Berdasarkan laporan warganya ada sekitar 15 kucing mati dengan waktu dua sampai tiga hari.
“Suatu saat terus ramai viral,” ujarnya.
Sementara viralnya kabar kucing mati itu awalnya dengan narasi kucing mati secara massal satu perumahan di Kota Malang.
Bahkan di video yang tersebar, kucing di satu perumahan itu mati semua dugaannya karena diracun.
Namun, video itu telah dipastikan hoaks. Tidak ada bukti bahwa kucing itu mati semua. Dari data yang dihimpun polisi dan RT setempat sebelumnya, hanya ada sekitar empat sampai lima kucing meninggal dan juga 11 kucing hilang.
Sementara pantauan blok-A.com di lapangan masih ada kucing-kucing berkeliaran di perumahan itu,
Polisi dan warga sepakat bahwa mencari pelaku terduga peracun kucing itu yang menyebabkan kematian.
(bob)




