Kota Malang, blok-A.com – Autopsi menjadi salah satu jalan untuk mengetahui penyebab pasti kematian ratusan jiwa di Tragedi Kelam Kanjuruhan.
Ada dua keluarga yang dikabarkan bersedia untuk dilakukan proses autopsi itu.
Namun, satu dari dua keluarga itu ternyata mendapat intimidasi. Namanya adalah Devi Athok. Devi kehilangan dua putrinya dan dia bersedia untuk dilakukan autopsi.
Hal itu berdasarkan laporan yang didapat KontraS. Sekjen KontraS Andy Irfan mengaku Devi melapor langsung ke dirinya bahwa ada intimidasi dari polisi.
Dijelaskannya, ada sejumlah polisi ke rumah Devi. Polisi meminta Devi untuk mencabut ketersediaannya untuk autopsi. Bahkan, polisi, kata Andy, juga menyiapkan surat pernyataan untuk pencabutan itu di rumah Devi. Devi pun merasa terintimidasi.
“Akhirnya kemarin keluarga dari korban merasa terintimidasi gak nyaman ya. Ayah dari korban membuat surat pernyataan mencabut rencana ketersediaan autopsi sampai sudah dibuatin sama pihak aparat yg di rumah.” ujarnya ke wartawan.
Mendapat laporan itu Andy geram. Andy mengirim surat protes ke polisi. Isinya tentang perasaan intimidasi Devi dimana polisi berada di sekitar lokasi rumahnya.
“Ini juga sudah kita masukan ke dalam program LPSK kami juga akan koordinasi dengan pihak LPSK untuk langkah selanjutnya,” tambahnya.
Sementara itu, Kapoolda Jatim, Irjen Pol Toni Hermanto menyebut intimidasi anggotanya itu tidak benar. Polisi, kata Toni, tidak pernah mengintimidasi keluarga korban yang bersedia untuk diautopsi.
“Hal itu tidak benar, ya semua bisa diketahui publik. Silakan teman-teman media konfirmasi itu,” tegasnya.
Sementara itu, autopsi sebenarnya dilakukan hari ini Rabu (19/10/2022) dengan agenda ekshumasi. Namun rencana itu ditunda.
Toni menjelaskan, alasan penundaan itu karena persetujuan keluarga korban. Ada beberapa keluarga korban yang belum menghendaki dilakukan autopsi.
“Pelaksanaan autopsi salah satunya juga meminta persetujuan keluarga dan informasi yang saya peroleh, keluarga korban sementara belum menghendaki untuk dilakukan autopsi,” tuturnya di RSSA Malang, Rabu (19/10/2022).
Sementara itu, blok-A.com mencoba menghubungi Devi Athok melalui pengiriman pesan singkat. Namun pesan singkat melalui aplikasi Whatsapp itu hanya dibaca tanpa dibalas hingga berita ini ditayangkan. (bob)




