Blok-a.com – Peristiwa longsor kembali terjadi di area tambang batu alam Gunung Kuda, Cirebon, Jawa Barat. Insiden ini bukan yang pertama, tercatat sudah lima kali lokasi tambang tersebut mengalami longsor, beberapa di antaranya menimbulkan korban jiwa.
Insiden terbaru terjadi pada Jumat (30/5/2025) sekitar pukul 09.30 WIB, di area tambang galian C Gunung Kuda. Longsor ini diduga dipicu oleh kesalahan dalam metode penambangan, yakni teknik undercutting atau pengambilan material dari bagian bawah tebing.
Akibat kejadian ini, sebanyak 14 orang dinyatakan meninggal dunia, delapan orang lainnya masih dalam pencarian, dan empat orang mengalami luka-luka. Korban luka telah mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa ini menjadi insiden longsor paling mematikan di tambang Gunung Kuda, melampaui kejadian-kejadian sebelumnya.
Berikut deretan tragedi longsor yang pernah terjadi di lokasi tambang Gunung Kuda Cirebon.
26 April 2015
Peristiwa longsor pertama di tambang batu alam Gunung Kuda, Cirebon, tercatat terjadi pada 26 April 2015. Insiden ini berlangsung saat sejumlah pekerja sedang melakukan aktivitas penggalian batu.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah tebing setinggi sekitar 70 meter, yang kemudian runtuh dan menimbun para pekerja di bawahnya. Sebanyak enam orang dilaporkan tertimbun reruntuhan. Dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara empat lainnya dinyatakan hilang dan diduga masih berada di bawah timbunan material longsoran.
Pemerintah Kabupaten Cirebon menyebut penyebab utama longsor ini adalah kesalahan dalam metode penambangan. Aktivitas tambang saat itu tidak menggunakan sistem terasering atau teknik penambangan berundak yang lebih aman untuk kontur tanah curam.
Terkait peristiwa ini, Polres Cirebon menahan pengawas tambang dan Ketua KUD Bumi Karya karena dianggap lalai hingga menyebabkan korban jiwa.
Sementara itu, Bupati Cirebon saat itu, Sunjaya Purwadi Sastra, sempat mengeluarkan larangan aktivitas penambangan di seluruh area Gunung Kuda. Namun kemudian dibuka kembali dengan alasan pemenuhan ekonomi bagi para penambang yang rata-rata warga sekitar.
30 September 2021
Insiden longsor kedua di tambang Gunung Kuda terjadi pada 30 September 2021. Berbeda dari kejadian sebelumnya, longsor kali ini sengaja dilakukan oleh pihak pengelola tambang sebagai bagian dari proses pengambilan material batu alam.
Longsor tersebut dipicu secara manual menggunakan alat berat (beko) dengan cara mengeruk bagian bawah bukit. Tujuannya adalah agar material batu yang berada di atas tebing runtuh dengan sendirinya.
Menurut keterangan para penambang, metode ini dianggap lebih aman dan sesuai prosedur dibandingkan penggunaan bahan peledak, yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini karena area tambang telah lebih dulu disterilkan oleh pihak pengelola sebelum proses longsoran buatan dilakukan.
19 Juni 2023
Longsor ketiga di tambang batu alam Gunung Kuda terjadi pada 19 Juni 2023. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa tersebut.
Penyebab longsor diduga karena curah hujan yang tinggi yang memperlemah struktur tebing, diperparah oleh metode penambangan yang digunakan, yaitu sistem undercutting atau pemotongan dari bagian bawah tebing.
Pihak pengelola tambang mengakui bahwa metode ini masih diterapkan karena kondisi medan di lokasi tidak memungkinkan dilakukan pemotongan dari atas.
Meski demikian, kejadian ini sebenarnya telah diprediksi sebelumnya, sehingga seluruh aktivitas penambangan telah dihentikan sementara sebelum longsor terjadi. Hal ini yang kemudian mencegah jatuhnya korban dalam insiden tersebut.
11 Februari 2025
Peristiwa longsor keempat di tambang galian C Gunung Kuda terjadi pada 11 Februari 2025. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini.
Longsor terekam dalam video amatir yang kemudian beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat material batu kapur tiba-tiba runtuh dari ketinggian, disertai suara gemuruh. Gumpalan debu tebal membumbung ke udara, sementara para pekerja berlarian menyelamatkan diri.
Seperti kejadian sebelumnya, longsor diduga dipicu oleh metode undercutting, yaitu teknik pengambilan batu dari bagian bawah tebing yang membuat struktur tanah di atasnya menjadi tidak stabil.
Pihak pengelola tambang sebelumnya sudah mendeteksi potensi longsor. Sebagai langkah antisipasi, aktivitas tambang telah dihentikan sementara dan para pekerja diliburkan sebelum kejadian terjadi. (hen)




